Ads Hostinger

Lazismu

Lazismu

Usung Konsep Neo-Philanthropy, Hilman Latief Ajak Lazismu Perkuat Dampak Sosial dan Sasar Reputasi Global

Usung Konsep Neo-Philanthropy, Hilman Latief Ajak Lazismu Perkuat Dampak Sosial dan Sasar Reputasi Global

SEMARANG — Gerakan filantropi Islam di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah dituntut untuk terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman. Bendahara Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hilman Latief, mengajak Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) untuk menerapkan konsep neo-philanthropy guna memperkuat dampak sosial yang berkelanjutan (sustainability).

​Pernyataan tersebut disampaikan Hilman pada acara di Kota Semarang, Jumat (6/11/2026). Ia menekankan pentingnya mentransformasi gerakan filantropi konvensional menuju model investasi sosial (social investment) melalui skema blended financing yang menggandeng sektor korporasi.                                                                  

​"Kita harus mulai mendorong gerakan filantropi yang konvensional itu dengan model-model investment," tegas Hilman.

​Ia menambahkan bahwa investasi sosial perlu diarahkan pada pemberdayaan berbasis kawasan sesuai karakteristik wilayah masing-masing, sehingga peta fokus gerakan Lazismu di daerah menjadi lebih terarah dan memiliki jejak dampak yang kuat.

​Evaluasi 25 Tahun dan "Trisula Muhammadiyah"

​Memasuki usia 25 tahun, Lazismu diharapkan melakukan evaluasi komprehensif untuk mengukur kontribusi nyata, baik yang bersifat tangible (terlihat) maupun intangible (tidak terlihat). Salah satu fokus utamanya adalah menghitung Social Return on Investment (SROI) dari setiap program yang telah dijalankan.

​Saat ini, PP Muhammadiyah tengah menyiapkan instrumen riset untuk mengkaji tiga pilar utama pemberdayaan masyarakat—yang ia sebut sebagai Trisula Muhammadiyah:

  • ​Lazismu (Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah)
  • ​MPM (Majelis Pemberdayaan Masyarakat)
  • ​MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center)

​Hilman mengapresiasi dedikasi dan kerja keras ketiga lembaga tersebut. Namun, ia mengingatkan pentingnya bertransformasi menuju pola kerja berbasis data dan pengelolaan digital yang cerdas (work smart) untuk mengoptimalkan outcome.

​Mengincar Pengakuan Global

​Dengan skala pengelolaan yang semakin besar, Hilman optimistis Lazismu sudah waktunya "naik kelas" dan memperluas jangkauan reputasinya hingga tingkat internasional.

​"Saya ingin mendorong Lazismu agar diakui (direcognize) dengan baik oleh lembaga internasional seperti UNDP, WHO, dan lembaga global lainnya. Sudah saatnya Lazismu tidak lagi menggunakan tolok ukur 5 atau 10 tahun lalu, melainkan harus memiliki mindset yang betul-betul cerdas dan berkemajuan," pungkasnya.

Apa reaksi Anda?
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Subscribe to our Newsletter

Dapatkan berita terbaru dan update langsung ke email Anda. Gratis!