Ads Hostinger

Editorial

Editorial

Ketika Kritik Kehilangan Akhlaknya

Ketika Kritik Kehilangan Akhlaknya

Beberapa tahun terakhir, ruang percakapan kita berubah sangat cepat. Apa yang dahulu hanya menjadi obrolan di warung kopi atau forum kecil, kini berpindah ke layar telepon genggam dan dapat disaksikan oleh siapa saja. Dalam hitungan menit, sebuah kebijakan dapat diperdebatkan ribuan orang. Dalam waktu yang sama, pujian dan celaan datang silih berganti tanpa sempat dipikirkan lebih dalam.

Perubahan ini tentu membawa banyak manfaat. Masyarakat memiliki ruang yang lebih luas untuk menyampaikan pendapat. Pemerintah pun tidak lagi dapat bekerja tanpa pengawasan publik. Kritik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan demokrasi. Bahkan, dalam pandangan Islam, mengingatkan terhadap kekeliruan adalah bagian dari tanggung jawab moral setiap orang.

Namun, di tengah derasnya arus informasi, ada sesuatu yang pelan-pelan terasa bergeser. Yang ramai diperbincangkan bukan lagi selalu persoalan kebijakan, melainkan sosok yang berada di balik kebijakan itu. Perhatian kita sering berhenti pada siapa yang berbicara, bukan pada apa yang sedang dibicarakan. Akibatnya, ruang diskusi menjadi semakin mudah dipenuhi prasangka. Sebuah keberhasilan kadang sulit diterima sebagai sebuah keberhasilan. Sebaliknya, kesalahan sekecil apa pun dapat berkembang menjadi bahan olok-olok yang berulang kali dipertontonkan.

Barangkali di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri. Apakah kritik yang kita sampaikan masih lahir dari keinginan untuk memperbaiki keadaan, atau jangan-jangan telah berubah menjadi pelampiasan rasa tidak suka?

Pertanyaan ini penting, terlebih bagi warga Muhammadiyah. Sejak awal, Persyarikatan tumbuh sebagai gerakan ilmu. Cara pandangnya dibentuk melalui pengajian, musyawarah, dan tradisi berpikir yang panjang. Karena itu, Muhammadiyah tidak pernah mengajarkan agar seseorang memuji hanya karena kedekatan, tetapi juga tidak mengajarkan untuk mencela hanya karena perbedaan.

Dalam sejarahnya, Muhammadiyah berkali-kali menunjukkan bahwa hubungan dengan negara tidak dibangun atas dasar permusuhan maupun ketergantungan. Ada saat ketika Muhammadiyah memberikan dukungan terhadap kebijakan yang membawa kemanfaatan bagi masyarakat. Ada pula masa ketika Persyarikatan menyampaikan kritik dengan tegas terhadap kebijakan yang dipandang tidak sejalan dengan kepentingan rakyat. Sikap itu tetap sama hingga hari ini. Yang menjadi ukuran bukan siapa yang memerintah, melainkan apakah kebijakan tersebut menghadirkan kemaslahatan.

Semangat seperti ini kiranya perlu terus dirawat, terutama di tengah kebiasaan media sosial yang sering mendorong kita untuk bereaksi lebih cepat daripada berpikir. Tidak jarang kita menjumpai perdebatan yang akhirnya meninggalkan substansi. Kritik berubah menjadi sindiran. Perbedaan pendapat berkembang menjadi ejekan. Bahkan, kehidupan pribadi seseorang ikut diseret ke ruang publik, seolah hal itu menjadi ukuran benar atau salahnya sebuah kebijakan.

Di titik inilah adab menjadi sangat penting. Muhammadiyah sejak dahulu tidak hanya berbicara tentang keberanian menyampaikan kebenaran, tetapi juga tentang cara menyampaikannya. Dakwah tidak hanya diukur dari isi pesannya, melainkan juga dari akhlak yang menyertainya. Sebab, kritik yang benar sekalipun dapat kehilangan maknanya apabila disampaikan dengan cara yang merendahkan martabat orang lain.

Menjadi warga Muhammadiyah bukan berarti kehilangan daya kritis. Sebaliknya, daya kritis adalah bagian dari tradisi Persyarikatan. Hanya saja, daya kritis itu selalu berjalan bersama kejernihan berpikir, keluasan pandangan, dan kesediaan untuk bersikap adil. Mengakui adanya kebijakan yang baik bukan berarti kehilangan independensi. Demikian pula, menyampaikan kritik terhadap kebijakan yang kurang tepat bukan berarti memusuhi negara.

Mungkin inilah yang perlu terus kita jaga. Di tengah suasana yang sering memaksa orang memilih antara memuji tanpa batas atau mengkritik tanpa henti, Muhammadiyah memiliki kesempatan untuk menunjukkan jalan yang berbeda. Jalan yang tetap kritis, tetapi tidak sinis. Jalan yang tetap berani, tetapi tidak kehilangan adab. Jalan yang tetap berpihak kepada kebenaran tanpa harus mengorbankan persaudaraan.

Karena pada akhirnya, dakwah bukan hanya tentang memenangkan perdebatan. Dakwah adalah tentang menjaga hati, merawat akal, dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.

Apa reaksi Anda?
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Subscribe to our Newsletter

Dapatkan berita terbaru dan update langsung ke email Anda. Gratis!