Pikir Ulang Anggaran MBG: Nyawa Korban Bencana Lebih Mendesak
Pikir Ulang Anggaran MBG: Nyawa Korban Bencana Lebih Mendesak
Jujur saja, kita seperti sedang menyaksikan prioritas negara yang agak melenceng belakangan ini. Di satu sisi, pemerintah tanpa ragu mengalokasikan anggaran fantastis sampai Rp71 triliun hingga Rp100 triliun lebih setahun—atau sekitar Rp800 miliar per hari—hanya untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tapi coba tengok nasib penanganan bencana alam kita. Sangat kontras dan miris.
Bayangkan saja, dana cadangan bencana nasional yang disiapkan di awal tahun cuma ada di angka Rp5 triliun. Itu pun untuk Dana Siap Pakai BNPB paling cuma ditaruh sekitar Rp250 sampai Rp500 miliar. Bayangkan, anggaran harian MBG saja sudah langsung melahap habis seluruh cadangan awal bencana BNPB! Angka ini benar-benar tidak seimbang. Begitu bencana besar datang barengan di beberapa pulau, uang Rp5 triliun itu langsung ludes dan jadi rebutan.
Akibatnya fatal di lapangan. Tengok saja Gempa NTT. Korban selamat terpaksa gigit jari menahan lapar di tenda pengungsian karena logistik lambat tiba. Karena bantuan tak kunjung datang, warga yang sudah nekat dan putus asa akhirnya sampai mencegat truk-truk bantuan di jalan. Ini bukan soal warga ingin berbuat kriminal, tapi negara yang memang lambat bergerak karena anggarannya terlalu ditekan.
Kondisinya makin parah saat Gempa NTT terjadi bersamaan dengan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan dan Sumatera. Padahal memadamkan karhutla lewat water bombing dan rekayasa cuaca itu butuh uang jumbo. Uang Rp5 triliun tadi terpaksa dibagi dua untuk dua bencana besar sekaligus. Hasilnya? Penanganan di dua tempat sama-sama kedodoran. Nyawa rakyat yang jadi taruhannya.
Lucunya lagi, proyek MBG yang menelan ratusan triliun itu kenyataannya belum rapi-rapi amat di lapangan. Masih banyak kendala distribusi dan pemborosan di sana-sini. Kan aneh kalau pemerintah sanggup buang Rp800 miliar sehari buat bagi-bagi piring makan dalam kondisi normal, tapi malah hitung-hitungan dan lamban waktu menyalurkan bantuan dasar buat korban gempa yang sedang bertaruh nyawa.
Sudah saatnya pemerintah realistis. Potong dan pangkas sebagian anggaran MBG itu, lalu alihkan langsung ke Dana Penanggulangan Bencana. Menyelamatkan nyawa manusia yang sedang tertimpa bencana itu urusan hidup dan mati, tidak bisa ditunda. Dengan memangkas sedikit saja porsi MBG, BNPB bisa punya napas buat beli armada logistik dan gerak cepat di NTT maupun lokasi karhutla. Ini bukan berarti mematikan program gizi, tapi soal kemanusiaan dan keadilan buat rakyat yang sedang tertimpa musibah.
Jujur saja, kita seperti sedang menyaksikan prioritas negara yang agak melenceng belakangan ini. Di satu sisi, pemerintah tanpa ragu mengalokasikan anggaran fantastis sampai Rp71 triliun hingga Rp100 triliun lebih setahun—atau sekitar Rp800 miliar per hari—hanya untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tapi coba tengok nasib penanganan bencana alam kita. Sangat kontras dan miris.
Bayangkan saja, dana cadangan bencana nasional yang disiapkan di awal tahun cuma ada di angka Rp5 triliun. Itu pun untuk Dana Siap Pakai BNPB paling cuma ditaruh sekitar Rp250 sampai Rp500 miliar. Bayangkan, anggaran harian MBG saja sudah langsung melahap habis seluruh cadangan awal bencana BNPB! Angka ini benar-benar tidak seimbang. Begitu bencana besar datang barengan di beberapa pulau, uang Rp5 triliun itu langsung ludes dan jadi rebutan.
Akibatnya fatal di lapangan. Tengok saja Gempa NTT. Korban selamat terpaksa gigit jari menahan lapar di tenda pengungsian karena logistik lambat tiba. Karena bantuan tak kunjung datang, warga yang sudah nekat dan putus asa akhirnya sampai mencegat truk-truk bantuan di jalan. Ini bukan soal warga ingin berbuat kriminal, tapi negara yang memang lambat bergerak karena anggarannya terlalu ditekan.
Kondisinya makin parah saat Gempa NTT terjadi bersamaan dengan Kebakaran Hutan dan
Lahan (Karhutla) di Kalimantan dan Sumatera. Padahal memadamkan karhutla lewat water bombing dan rekayasa cuaca itu butuh uang jumbo. Uang Rp5 triliun tadi terpaksa dibagi dua untuk dua bencana besar sekaligus. Hasilnya? Penanganan di dua tempat sama-sama kedodoran. Nyawa rakyat yang jadi taruhannya.
Lucunya lagi, proyek MBG yang menelan ratusan triliun itu kenyataannya belum rapi-rapi amat di lapangan. Masih banyak kendala distribusi dan pemborosan di sana-sini. Kan aneh kalau pemerintah sanggup buang Rp800 miliar sehari buat bagi-bagi piring makan dalam kondisi normal, tapi malah hitung-hitungan dan lamban waktu menyalurkan bantuan dasar buat korban gempa yang sedang bertaruh nyawa.
Sudah saatnya pemerintah realistis. Potong dan pangkas sebagian anggaran MBG itu, lalu alihkan langsung ke Dana Penanggulangan Bencana. Menyelamatkan nyawa manusia yang sedang tertimpa bencana itu urusan hidup dan mati, tidak bisa ditunda. Dengan memangkas sedikit saja porsi MBG, BNPB bisa punya napas buat beli armada logistik dan gerak cepat di NTT maupun lokasi karhutla. Ini bukan berarti mematikan program gizi, tapi soal kemanusiaan dan keadilan buat rakyat yang sedang tertimpa musibah.
Muhammad Syakib Adil