Penguatan Rupiah Dinilai Positif, Ekonom Ingatkan BI Tetap Konsisten Jaga Stabilitas Moneter
JAKARTA – Menguatnya nilai tukar rupiah dan membaiknya sentimen pasar keuangan dalam beberapa waktu terakhir menjadi sinyal positif bagi perekonomian Indonesia. Namun, para ekonom mengingatkan bahwa kondisi tersebut tidak boleh membuat Bank Indonesia (BI) lengah. Konsistensi menjaga kredibilitas kebijakan moneter dinilai tetap menjadi faktor utama dalam mempertahankan kepercayaan pelaku pasar.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai penguatan pasar mencerminkan meningkatnya optimisme investor terhadap prospek ekonomi nasional. Meski demikian, Bank Indonesia tetap perlu menjalankan kebijakan yang terukur, transparan, dan konsisten agar stabilitas makroekonomi dapat terus terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Menurutnya, tantangan eksternal masih cukup besar. Arah kebijakan suku bunga bank sentral negara maju, dinamika geopolitik, serta perlambatan ekonomi global masih berpotensi memengaruhi arus modal dan pergerakan nilai tukar di negara berkembang, termasuk Indonesia. Oleh sebab itu, kredibilitas kebijakan moneter menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan investor.
Bank Indonesia selama ini mengombinasikan berbagai instrumen kebijakan, mulai dari pengendalian suku bunga acuan, stabilisasi nilai tukar rupiah, hingga penguatan koordinasi dengan pemerintah melalui bauran kebijakan fiskal dan moneter. Langkah tersebut dinilai berhasil menjaga inflasi tetap terkendali sekaligus mendukung stabilitas sistem keuangan di tengah dinamika global.
Selain menjaga inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah juga menjadi perhatian utama karena berpengaruh terhadap biaya impor, daya beli masyarakat, dan kepastian dunia usaha. Ketika nilai tukar bergerak stabil, pelaku usaha memiliki ruang yang lebih baik dalam menyusun rencana investasi maupun ekspansi bisnis.
Para pelaku pasar juga menilai komunikasi kebijakan yang jelas menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga optimisme. Penyampaian arah kebijakan secara terbuka membantu mengurangi ketidakpastian sekaligus memberikan kepastian bagi investor domestik maupun asing dalam mengambil keputusan investasi.
Di sisi lain, sejumlah lembaga internasional juga memperkirakan ekonomi Indonesia tetap memiliki fundamental yang relatif kuat dibandingkan banyak negara berkembang lainnya. Konsumsi rumah tangga yang terjaga, investasi yang terus tumbuh, serta inflasi yang terkendali menjadi faktor penopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Meski demikian, para ekonom mengingatkan bahwa tantangan ke depan masih memerlukan kewaspadaan. Fluktuasi harga komoditas, perubahan kondisi pasar keuangan global, hingga risiko perlambatan perdagangan dunia dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional. Karena itu, sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah, dan otoritas sektor keuangan perlu terus diperkuat agar momentum penguatan ekonomi dapat dipertahankan secara berkelanjutan.