AI dan Big Data

AI dan Big Data

Big Data dan AI Jadi Rebutan Dunia. Indonesia Mulai Kebanjiran Investasi Pusat Data

Big Data dan AI Jadi Rebutan Dunia. Indonesia Mulai Kebanjiran Investasi Pusat Data

Jakarta - 11/05/26 Gelombang perkembangan big data dan kecerdasan buatan atau AI semakin besar pada 2026. Indonesia kini mulai menjadi salah satu target utama investasi pusat data raksasa di Asia Tenggara. Nilai investasinya bahkan mencapai puluhan triliun rupiah dan diprediksi terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Perusahaan infrastruktur digital asal Singapura, Digital Edge, mengumumkan investasi sebesar US$4,5 miliar atau sekitar Rp73 triliun untuk membangun kampus pusat data berbasis AI terbesar di Indonesia. Proyek tersebut dibangun di kawasan industri GIIC Bekasi dan diproyeksikan menjadi salah satu pusat data terbesar di Asia Tenggara. 

Pusat data ini akan digunakan untuk mendukung kebutuhan big data, cloud computing, hingga kecerdasan buatan yang terus meningkat. Teknologi AI saat ini membutuhkan kapasitas penyimpanan dan pengolahan data sangat besar. Karena itu, perusahaan teknologi dunia mulai berlomba membangun infrastruktur digital baru.

Tidak hanya Digital Edge, perusahaan DAMAC Digital juga sedang membangun pusat data AI senilai US$150 juta di Jakarta. Perusahaan tersebut bahkan menyiapkan investasi lanjutan hingga US$2,3 miliar untuk pengembangan kampus AI di Cikarang. 

Lonjakan kebutuhan big data juga mulai berdampak pada sektor industri dan properti di Indonesia. PT Puradelta Lestari Tbk mencatat permintaan lahan industri meningkat tajam akibat ekspansi data center dan AI. Pada kuartal pertama 2026, perusahaan itu meraih pra-penjualan Rp561 miliar dan sebagian besar berasal dari kebutuhan pusat data. 

Pengamat menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat ekonomi digital baru di kawasan Asia Tenggara. Jumlah pengguna internet yang besar, perkembangan AI, serta meningkatnya layanan digital membuat kebutuhan pengolahan data terus melonjak setiap tahun.

Namun di balik peluang besar tersebut, muncul tantangan baru. Infrastruktur listrik nasional diperkirakan akan menghadapi tekanan besar akibat kebutuhan energi pusat data AI yang sangat tinggi. Praktisi industri energi Sandro Agassi Sitompul menyebut pembangunan pusat data hyperscale membutuhkan pasokan listrik sangat besar dan stabil. 

Selain masalah energi, Indonesia juga menghadapi tantangan sumber daya manusia dan keamanan data. Pemerintah didorong memperkuat regulasi perlindungan data serta menyiapkan tenaga kerja digital yang mampu bersaing di era AI.

Perkembangan big data kini tidak hanya menjadi isu teknologi, tetapi juga mulai memengaruhi ekonomi, pendidikan, industri, hingga kebijakan negara. Banyak pihak menilai 2026 menjadi titik awal persaingan besar dalam penguasaan data dan kecerdasan buatan di kawasan Asia Tenggara. 

Apa reaksi Anda?
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Subscribe to our Newsletter

Dapatkan berita terbaru dan update langsung ke email Anda. Gratis!