El Niño Makin Kuat, BMKG Prediksi Musim Hujan 2026/2027 Mulai November
JAKARTA - Fenomena El Niño di Samudra Pasifik semakin menguat dan mulai memberikan dampak terhadap pola musim di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim hujan 2026/2027 akan datang lebih lambat di sebagian besar wilayah Indonesia.
Berdasarkan pemutakhiran BMKG pada September 2026, El Niño saat ini berada pada intensitas sangat kuat. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan periode kemarau berlangsung lebih panjang dan awal musim hujan mengalami kemunduran.
BMKG mencatat anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 pada akhir Agustus 2026 mencapai +2,83 derajat Celsius. Sementara itu, indeks ENSO tiga bulanan periode Juli, Agustus dan September berada pada angka +2,63. Nilai tersebut menunjukkan kondisi El Niño dengan intensitas sangat kuat.
Selain El Niño, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) juga menjadi perhatian. Indeks IOD pada Agustus tercatat +0,376 dan dalam pemantauan terbaru meningkat menjadi +0,935 pada Dasarian II September. BMKG memperkirakan IOD berpeluang berada pada fase positif hingga akhir tahun.
Kombinasi El Niño dan IOD positif dapat mengurangi pasokan uap air menuju wilayah Indonesia. Dampaknya, sebagian wilayah mengalami periode kering yang lebih panjang sebelum memasuki musim hujan.
Musim hujan mulai November
BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 tidak terjadi secara serentak di seluruh Indonesia. Sebagian wilayah diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November, sementara wilayah lainnya baru mengalaminya pada Desember 2026.
Sebanyak 185 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 24,66 persen wilayah Indonesia diprediksi memasuki musim hujan pada November 2026. Selanjutnya, 266 ZOM atau sekitar 17,31 persen wilayah diperkirakan menyusul pada Desember.
Wilayah yang berpotensi mulai memasuki musim hujan pada November antara lain sebagian Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, NTB, sebagian kecil NTT, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat bagian utara dan Papua Selatan.
Sementara itu, sebagian besar Kalimantan Selatan diperkirakan baru memasuki musim hujan pada Desember 2026. Kondisi serupa juga diprediksi terjadi di sebagian besar Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku dan sejumlah wilayah Papua.
Jika dibandingkan dengan kondisi normal, BMKG memperkirakan 529 ZOM atau sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia mengalami awal musim hujan yang mundur. Hanya 11 ZOM atau 1,12 persen wilayah yang diprediksi mengalami musim hujan lebih cepat dari normal.
Kemarau masih berlangsung di banyak wilayah
Pemutakhiran BMKG menunjukkan kondisi kering masih mendominasi Indonesia. Pada Dasarian I September 2026, sebanyak 564 ZOM atau sekitar 80,7 persen wilayah Indonesia masih mengalami musim kemarau.
Sejumlah wilayah juga mengalami hari tanpa hujan dalam waktu panjang. BMKG mencatat kondisi hari tanpa hujan lebih dari 60 hari terjadi di sejumlah wilayah pada 25 provinsi. Durasi terpanjang yang tercatat mencapai 131 hari di wilayah Bantul.
Untuk periode Oktober hingga Desember 2026, BMKG memperkirakan curah hujan di Indonesia secara umum berada pada kategori rendah hingga menengah. Sifat hujan juga diprediksi berada pada kategori bawah normal hingga normal.
Kondisi ini membuat masyarakat tetap perlu mewaspadai kekeringan, terutama di wilayah yang awal musim hujannya mengalami kemunduran.
Waspada karhutla hingga memasuki musim hujan
BMKG juga mengingatkan potensi dampak lanjutan dari kemarau panjang. Kondisi kering dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama pada September hingga Oktober.
Di sisi lain, datangnya musim hujan tidak otomatis menghilangkan risiko bencana. Ketika hujan mulai meningkat, masyarakat tetap perlu mewaspadai banjir dan longsor, khususnya di wilayah yang memiliki kerentanan tinggi.
BMKG meminta pemerintah daerah dan masyarakat memanfaatkan informasi prakiraan musim sebagai dasar untuk melakukan langkah antisipasi. Sektor pertanian, misalnya, perlu menyesuaikan jadwal tanam dengan perkembangan musim serta mempertimbangkan varietas tanaman yang memiliki masa tanam lebih pendek.
Masyarakat juga diminta menghemat penggunaan air, meningkatkan kapasitas penyimpanan air dan menjaga saluran drainase agar tetap berfungsi ketika hujan mulai meningkat.
BMKG menegaskan bahwa prediksi musim bersifat dinamis dan terus diperbarui berdasarkan perkembangan atmosfer dan laut. Karena itu, masyarakat disarankan mengikuti informasi resmi BMKG secara berkala untuk mendapatkan perkembangan cuaca dan iklim terbaru.
Dengan kondisi El Niño yang masih sangat kuat, periode September hingga Oktober menjadi fase yang perlu mendapat perhatian. Musim hujan memang diperkirakan mulai datang di sejumlah wilayah pada November, tetapi kedatangannya tidak serentak dan sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal musim hujan lebih lambat dari biasanya.