Ads Hostinger

Opini Pembaca

Opini Pembaca

Ketika Langit Akhirnya Menjawab Doa Kami

Ketika Langit Akhirnya Menjawab Doa Kami

Oleh: Muhammad Nashir*

Dua hari ini, ada yang berbeda di Balangan. Bukan karena ada peristiwa besar, bukan pula karena ada berita heboh. Yang berbeda justru sesuatu yang selama ini kita anggap remeh: hujan.

Coba bayangkan seorang ibu yang berlari kecil ke halaman, membiarkan tetes pertama jatuh di telapak tangannya. Atau seorang bapak yang sejenak berhenti dari pekerjaannya, menengadah ke langit, lalu tersenyum sendiri tanpa berkata apa-apa. Hal-hal kecil seperti ini yang belakangan banyak muncul di linimasa kita—video atap rumah yang basah, jalanan yang mulai mengkilap, atau sekadar status singkat: "Alhamdulillah, di sini hujan." Kalimat sesederhana itu, tetapi rasanya seperti mewakili kelegaan banyak orang sekaligus.

Ketika Hal Biasa Menjadi Luar Biasa

Kita tahu, hujan biasanya bukan sesuatu yang dirayakan. Ia lebih sering dikeluhkan—jalan becek, pakaian susah kering, aktivitas terganggu. Tapi kali ini terasa terbalik. Air yang jatuh dari langit tiba-tiba jadi kabar gembira yang ditunggu berminggu-minggu.

Saya kira jawabannya sederhana: kita baru saja melewati masa yang berat. Panas yang berkepanjangan, tanah yang mengeras dan pecah-pecah, debu yang mengganggu napas, serta bayang-bayang asap kebakaran hutan dan lahan yang terus menghantui. Dalam kondisi seperti itu, wajar jika hujan bukan lagi sekadar fenomena cuaca. Ia berubah menjadi semacam kelegaan batin—tanda bahwa masa sulit itu, setidaknya untuk sementara, mereda.

Bisa jadi, orang-orang yang mengunggah video hujan di media sosial bukan sedang mencari perhatian. Mereka hanya ingin membagikan sesuatu yang tulus: rasa syukur, rasa lega, dan harapan yang akhirnya terjawab.

Bukan Sekadar Kebetulan

Menariknya, hujan yang turun ini rupanya tidak lepas dari upaya manusia juga. Radar Banjarmasin melaporkan bahwa hujan di Balangan berkaitan dengan penguatan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dijalankan BMKG bersama BNPB, sebagai ikhtiar membasahi wilayah kering dan menekan risiko karhutla. Jadi hujan ini bukan semata rahmat yang turun begitu saja, tetapi juga buah dari kerja banyak pihak yang berusaha mendatangkannya. Ada usaha manusia di balik doa yang terkabul.

Jangan Buru-Buru Lega

Namun, satu hal yang perlu kita ingat: dua hari hujan belum berarti kemarau telah usai.

Tanah yang sudah lama kering butuh lebih dari sekadar hujan sesaat untuk benar-benar pulih. Ancaman karhutla pun tidak otomatis padam hanya karena langit basah beberapa kali. Kita boleh bersyukur, tapi jangan sampai kewaspadaan ikut mengendur. Boleh menikmati hujan, tapi jangan lupa bahwa cuaca masih bisa berubah kapan saja.

Pelajaran yang Dibawa Hujan

Justru di sinilah letak pelajaran pentingnya. Selama kemarau, kita belajar bahwa air itu berharga—sesuatu yang selama ini kita anggap "ada saja" ternyata bisa habis dan sulit dicari. Maka ketika hujan datang, semestinya kita juga belajar menjaganya: tidak membiarkan air hujan begitu saja terbuang, tidak membakar lahan sembarangan, tidak membuang sampah ke saluran air, serta menjaga kawasan resapan agar tetap berfungsi.

Hujan memang bukan sesuatu yang bisa kita minta datang sesuka hati. Tapi kesiapan menyambutnya—dan kesiapan menghadapi kemarau berikutnya—sepenuhnya ada di tangan kita.

Terakhir Bagi saya, hujan di Balangan dua hari terakhir ini bukan cuma soal jalan yang basah atau udara yang lebih sejuk. Ia adalah pengingat bahwa hal-hal yang selama ini kita anggap biasa bisa menjadi sangat berarti, justru ketika kita benar-benar membutuhkannya.

Dan mungkin itulah sebabnya, ketika hujan turun, begitu banyak orang tergerak mengangkat ponsel dan membagikannya—bukan sekadar konten, melainkan kebahagiaan sederhana yang sudah lama mereka nantikan.

Semoga hujan ini menjadi berkah: membasahi lahan, meredakan risiko karhutla, dan membawa kebaikan bagi lingkungan kita bersama. Tapi setelah hujan reda, semoga kewaspadaan kita tidak ikut reda. Karena hujan hari ini adalah berkah yang sedang kita syukuri—dan kemarau esok adalah pelajaran yang harus mulai kita siapkan dari sekarang.

*Warga Paringin Kota

Apa reaksi Anda?
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Subscribe to our Newsletter

Dapatkan berita terbaru dan update langsung ke email Anda. Gratis!