TikTok sarang Monyet?
Jujur aja nih, siapa di sini yang niat awalnya cuma mau scrolling TikTok lima menit sebelum tidur, tapi tahu-tahu jam dinding sudah menunjukkan pukul dua pagi? Lebih ajaibnya lagi, bukannya dapat ilmu baru atau tidur dengan tenang, otak kita malah diisi oleh tayangan orang dewasa yang joget-joget, orang ngemis ngemis gift dari penonton, atau malah konten konten brainrot.
Mulai dari fenomena prank yang lebih mirip tindakan kriminal ringan, klarifikasi drama influencer yang durasinya mengalahkan sidang skripsi, sampai adu argumen di kolom komentar yang argumennya bikin tebak-tebakan IQ—semuanya ada di TikTok. Fenomena ini bikin banyak dari kita mulai bertanya-tanya: "TikTok sarang Monyet?", TikTok sarang monyet adalah sebuah statement untuk sebuah aplikasi yang dimana para penggunanya itu banyak minimnya, salah satunya kayak minim literasi.
Ketika Algoritma Lebih Suka 'Kehebohan' ketimbang 'Kecerdasan'
Secara teknis, TikTok didesain dengan algoritma yang sangat canggih. Sayangnya, sistem ini tidak punya filter estetika maupun etika. Algoritma tidak peduli apakah konten yang lewat di FYP kamu adalah penjelasan teori fisika atau sekadar orang yang live sambil menghitung butiran beras. Yang penting bagi sistem adalah tiga hal: views, durasi menonton, dan seberapa panas perdebatan di kolom komentar.
Dampaknya? Formula untuk menjadi terkenal di kalangan anak muda zaman sekarang terasa terlalu gampang. Kamu tidak harus berprestasi di sekolah atau punya bakat luar biasa. Cukup lakukan hal-hal konyol di tempat umum, pakai lagu yang sedang tren, dan voila! Kamu resmi jadi "penguasa" FYP. Semakin di luar nalar tindakan yang dilakukan, semakin algoritma berpihak padamu. Kalau sudah begini, batas antara "kreativitas tanpa batas" dan "kurang kerjaan" jadi tipis sekali.
Sisi Lain Panggung: Antara Drama dan Edukasi
Coba perhatikan tipe konten yang sering lewat di feed kita:
Eksperimen Sosial Rasa "Cari Masalah": Banyak kreator yang mengatasnamakan "sosialisasi", padahal cuma membuat orang lain di tempat umum merasa tidak nyaman demi reaksi funny.
Pakar Dadakan di Kolom Komentar: Ketika ada isu sensitif atau berita viral, kolom komentar langsung berubah jadi forum debat. Bedanya dengan diskusi akademis, argumen netizen sering kali berpatokan pada "kata teman saya yang punya saudara di sana".
Atraksi Live yang Minta Gift: Fenomena live dengan aksi-aksi aneh demi mendapatkan gift virtual yang nilainya tidak seberapa, seperti mandi lumpur, joget joget sendiri atau bersama sama, maupun konten konten yang kurang berpendidikan lainnya dengan mengharap imbalan gift paus atau singa.
Menjadi sumber mata pencaharian utama : Banyak dari pengguna tiktok yang menggunakan fitur live di aplikasi Tiktok untuk mencari rezeki dari fitur tersebut, seperti berjualan, memberikan motivasi, membahas tentang pelajaran di sekolah atau menjadi guru lewat fitur tersebut, itu adalah dampak positifnya, tetapi ada saja dampak negatifnya, yakni banyaknya yang menggunakan fitur tersebut untuk meminta minta gift dengan cara yang kurang mendidik, yang ditakutkan adalah jika hanya dengan joget joget di depan kamera sambil live dan pendapatannya juga lumayan yang dapat terjadi adalah orang lain juga akan ikut ikutan melakukan itu, dan ditakutkan lagi itu akan di tiru oleh anak anak, dan akan menimbulkan kebiasaan untuk minta minta.
Melihat fenomena ini setiap hari, wajar kalau timbul kesan bahwa TikTok hanya berisi kekonyolan semata. Namun, jika kita bersikap adil, TikTok sebenarnya juga punya sisi terang. Banyak pelajar yang membagikan trik cepat belajar matematika, penjelasan sejarah dengan animasi keren, hingga anak muda yang sukses membangun bisnis lokal berkat strategi konten yang cerdas.
Penonton yang Menentukan Panggung
Menjuluki TikTok sebagai "sarang monyet" mungkin terdengar cukup pedas dan menyindir, tetapi kalimat itu menjadi cermin bagi kita sebagai pengguna. Algoritma TikTok pada dasarnya hanya memantulkan apa yang sering kita konsumsi. Jika FYP kita dipenuhi oleh drama dan tingkah aneh, itu terjadi karena jempol kita sendiri yang sering berhenti dan menonton konten tersebut sampai habis.
Pada akhirnya, TikTok adalah sebuah alat. Aplikasi ini bisa menjadi perpustakaan digital yang interaktif dan tempat mengasah bakat jurnalisme muda, atau justru menjadi panggung atraksi tanpa arah. Pilihan ada di tangan kita sendiri: mau menjadi penonton yang kritis dan cerdas, atau ikut menjadi bagian dari "kebisingan" yang tidak ada gunanya?
Dampak positif TikTok itu intinya aplikasi ini bisa jadi wadah edukasi dan perpustakaan digital yang seru (buat belajar matematika, sejarah, sampai pelajaran sekolah), lapak nyari cuan dan ngembangin bisnis lokal (lewat fitur live buat berjualan atau bagi motivasi), plus jadi tempat buat ngasah bakat kayak jurnalisme muda dan kreativitas anak muda!