Kala Diskusi Buku dilarang: Bacalah! Jangan bubarkan
“...tak ada yang sesuai dengan ciri dan karakter Muhammad yang ia cari-cari: jujur, tapi lihai berbisnis; andal berpolitik, tapi tak haus jabatan; saudagar yang berhasil, tapi teramat miskin; gagah dan dipuja perempuan, tapi menikahi janda tua.” (hlm. 139)
“Dia menggeram gusar. “Itu sungguh aneh! Lalu, untuk apa kalian semua bernama Muhammad kalau mirip pun tidak? Cuma jadi pencuri, politisi haus kuasa, atau semata orang tak berguna?...” (hlm. 139)
Buku kumpulan cerpen berjudul Memburu Muhammad karya Feby Indirani baru-baru ini ramai dibicarakan, kala acara bedah bukunya di Bogor dilarang oleh ormas, karena judul acara dan judul bukunya dianggap sebagai penistaan agama. Padahal acara tersebut dinaungi langsung oleh Menteri Kebudayaan, tapi tak ada pembelaan dari negara terhadap pelarangan diskusi buku. Peristiwa itu membuat Faby tambah kecewa, ia pun menulis utasan di media sosial soal pelarangan diskusi buku yang dialaminya, karena ormas yang melarang diskusi buku tidak memiliki dasar sama sekali untuk membubarkan.
Peristiwa ini ramai dibicarakan di media sosial, beberapa akun konservatif mendukung pelarangan buku tersebut karena dianggap sebagai penistaan agama yang terlihat dari judulnya Memburu Muhammad. Padahal jika mereka membaca dengan seksama isi ceritanya adalah tentang Abu Jahal yang kembali pada masa modern dan memburu Muhammad, tapi selama pemburuannya di masa modern ini tak ada satupun Muhammad seperti yang dibayangkannya. Bahkan saat ia meminta Muhammad Ikrimah mencari nama Muhammad di internet, ia marah karena yang ditampilkan Muhammad Nazaruddin yang melakukan tindakan korupsi. Bagi Abu Jahal tak mungkin Muhammad mencuri.
Padahal cerpen tersebut menggambarkan betapa jauh akhlaknya Nabi Muhammad dengan orang-orang modern yang menggunakan nama Muhammad. Di Indonesia sendiri tidak terhitung berapa jumlah nama Muhammad, tapi jika dikerucutkan berapa banyak yang bernama Muhammad meneladani akhlak Muhammad, sungguh sukar dicari. Itulah sebenarnya yang ingin digambarkan dalam cerpen tersebut.
Tapi pertanyaannya kenapa buku ini baru ramai dibicarakan setelah enam tahun lalu terbit. Ya, buku ini sudah terbit pada tahun 2020 oleh Bentang Pustaka diberikan pengantar oleh Prof. K.H. Nadirsyah Hosen yang menerangkan bahwa cerpen Memburu Muhammad adalah kritik bagi kita yang jauh teladannya dengan Nabi Muhammad Saw.
Pada tanggal 20 September 2026, Feby Indirani mendiskusikan buku Memburu Muhammad yang diselenggarakan oleh Pekan Sastra Bogor 2026. Tiba-tiba saja acara dibatalkan karena kelompok yang mengatasnamakan Front Pembela Islam (FPI) akan mengerahkan massa untuk menghentikan diskusi. Panitia yang takut dengan FPI dan lemahnya perlindungan negara, memaksa panitia membatalkan diskusi karena takut rusaknya fasilitas umum, tekanan intimidasi, dan keselamatan peserta.
Pelarangan buku ini mengingatkanku dengan diskusi buku Negara Bilang Jangan Dibaca yang ditulis oleh Jejaring Kerja Budaya. Muhidin M. Dahlan membedah buku tersebut yang menerangkan bahwa keterlibatan militer telah memberangus buku-buku, hingga muncul buku terlarang pada masa Orde Baru. Tapi pada masa reformasi, pelarangan buku semakin mengerikan, karena yang menggerakan adalah ormas dan pembiaran dari militer. Kasus pelarangan buku, bukanlah hal baru, kelompok FPI sudah beberapa kali berhasil melarang buku bahkan menyuruh penerbit membakarnya. Peristiwa ini terjadi pada buku 5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia karya Douglas James Wilson. Menurut Muhidin M. Dahlan, pelarangan buku akarnya ada pada militer, meski ormas yang turun tangan memberengus, tapi militer dengan sengaja membiarkan.
Begitulah nasib yang menimpa Feby Indirani, padahal kegiatannya berada di bawah naungan Kementerian Kebudayaan RI tapi tak ada tindakan negara untuk melindungi acara bedah buku, malah sebaliknya kelompok seperti FPI dibiarkan semena-mena melaran acara bedah buku, yang membaca bukunya pun tidak.