'Aisyi Tower Klaten, Hotel Literasi Milik 'Aisyiyah dengan Fasilitas Setara Hotel Bintang Empat
KLATEN – Perempuan Muhammadiyah melalui organisasi 'Aisyiyah kembali menunjukkan kiprahnya dalam bidang ekonomi dan bisnis dengan menghadirkan 'Aisyi Tower Klaten, sebuah hotel literasi yang menawarkan fasilitas lengkap layaknya hotel bintang empat meski secara klasifikasi masih berada pada kategori bintang dua plus. Kehadiran hotel ini menjadi wajah baru gerakan ekonomi berkemajuan yang dikembangkan oleh 'Aisyiyah di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media (SCM) sekaligus Direktur Utama Suara Muhammadiyah, Deni Asy'ari, menjelaskan bahwa 'Aisyi Tower bukan sekadar bisnis perhotelan biasa. Hotel ini dibangun dengan konsep literasi yang terinspirasi dari akar sejarah Suara Muhammadiyah sebagai media dakwah dan pencerahan masyarakat. Menurutnya, setiap sudut bangunan dirancang untuk menghadirkan pengalaman yang memperkaya wawasan, memberikan inspirasi, serta memberdayakan pengunjung.
Deni menyebutkan bahwa secara jumlah kamar, 'Aisyi Tower belum memenuhi syarat sebagai hotel bintang tiga karena hanya memiliki 28 kamar. Namun dari sisi fasilitas, hotel ini menawarkan layanan yang jauh melampaui standar hotel bintang dua. Karena itu, ia menyebutnya sebagai hotel bintang dua plus-plus dengan kualitas yang dapat disejajarkan dengan hotel bintang empat.
Hotel yang akan melakukan soft opening pada 16 Juni 2026 ini memiliki dua lantai dengan total 28 kamar yang terdiri atas delapan kamar dormitory berkapasitas delapan tempat tidur, 12 kamar Deluxe King, enam kamar Deluxe Twin, serta dua kamar President Suite untuk tamu VIP dan keluarga. Selain fasilitas kamar, hotel ini juga dilengkapi ballroom berkapasitas hingga 300 orang, dua ruang pertemuan, kolam renang, pusat kebugaran, perpustakaan anak, taman bermain, kafe dan restoran, area parkir luas, hingga ruang promosi produk UMKM.
Ketua Pimpinan Daerah 'Aisyiyah Klaten, Sri Mulyani Rahayuningsih, menyatakan bahwa kehadiran 'Aisyi Tower merupakan bentuk nyata dakwah ekonomi berkemajuan. Menurutnya, hotel ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat menginap, tetapi juga menjadi media dakwah kultural yang menghadirkan nilai-nilai literasi dan pemberdayaan masyarakat.
Menariknya, pengelola tidak menggunakan label hotel syariah meskipun seluruh operasionalnya berlandaskan nilai-nilai Islam. Deni menegaskan bahwa pihaknya lebih menekankan penerapan nilai dan budaya syariah dalam pelayanan dibanding sekadar penggunaan label bisnis. Pengunjung diharapkan dapat merasakan langsung suasana dan nilai keislaman yang diterapkan selama menginap.
Selain menjadi simbol kemandirian ekonomi perempuan Muhammadiyah, pembangunan 'Aisyi Tower juga menunjukkan kekuatan gotong royong jamaah. Proyek ini dibangun dengan pembiayaan internal tanpa bergantung pada pinjaman perbankan. Model tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam mengembangkan usaha mandiri berbasis Persyarikatan.
Dengan konsep hotel literasi, fasilitas lengkap, serta semangat dakwah ekonomi yang diusung, 'Aisyi Tower Klaten diharapkan menjadi ikon baru Kota Klaten sekaligus contoh keberhasilan pengelolaan bisnis profesional oleh perempuan Muhammadiyah.