Ads Hostinger

Profil Tokoh

Profil Tokoh

Prof. Abdul Mu'ti, Keteladanan Seorang Negarawan Muhammadiyah yang Mengabdi untuk Bangsa

Prof. Abdul Mu'ti, Keteladanan Seorang Negarawan Muhammadiyah yang Mengabdi untuk Bangsa

Di tengah dinamika kehidupan berbangsa yang semakin kompleks, Indonesia membutuhkan lebih banyak figur yang tidak hanya memiliki kapasitas intelektual, tetapi juga keteladanan moral. Sosok seperti itu menjadi penting karena masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu menunjukkan bahwa jabatan merupakan amanah, bukan sekadar simbol kekuasaan. Salah satu tokoh yang banyak dipandang memiliki karakter tersebut adalah Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed., Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia sekaligus Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Perjalanan panjang Prof. Abdul Mu'ti memperlihatkan bahwa kepemimpinan tidak dibangun dalam waktu singkat. Ia tumbuh dari tradisi keilmuan Muhammadiyah yang menempatkan pendidikan, akhlak, dan pengabdian sebagai fondasi utama. Selama bertahun-tahun aktif sebagai akademisi, pendidik, penulis, hingga pimpinan organisasi, ia menunjukkan konsistensi dalam menyampaikan gagasan yang moderat, mencerahkan, dan berpihak pada kemajuan bangsa.

Ketika dipercaya menjadi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, banyak kalangan melihat penunjukan tersebut sebagai bentuk kepercayaan negara kepada sosok yang telah lama mengabdikan diri di bidang pendidikan. Pengalaman panjang di dunia pendidikan menjadi modal penting untuk memahami persoalan sekolah, guru, peserta didik, hingga tantangan pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Namun, jabatan menteri bukanlah satu-satunya alasan mengapa Prof. Abdul Mu'ti layak menjadi teladan. Yang lebih menarik justru adalah cara ia menjalankan amanah. Dalam berbagai kesempatan, ia tampil sederhana, tenang, dan jauh dari kesan berlebihan. Kesederhanaan tersebut bukan sekadar tampilan luar, melainkan tercermin dari cara berbicara, cara menghargai orang lain, hingga kesediaannya berdialog dengan berbagai kalangan.

Bagi warga Muhammadiyah, sikap seperti ini bukan sesuatu yang asing. Muhammadiyah sejak awal didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari jabatan, melainkan dari manfaat yang diberikan kepada masyarakat. Nilai inilah yang tampak melekat pada diri Prof. Abdul Mu'ti.

Sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ia dikenal mampu menjaga komunikasi organisasi dengan berbagai elemen bangsa. Muhammadiyah selama ini dikenal sebagai organisasi Islam yang aktif memberikan solusi melalui pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, serta pemberdayaan masyarakat. Dalam berbagai forum nasional maupun internasional, Prof. Abdul Mu'ti konsisten memperkenalkan wajah Islam yang damai, inklusif, dan berkemajuan.

Keteladanan lain yang patut dicermati adalah kemampuannya memisahkan kepentingan organisasi dengan kepentingan negara. Ketika menjalankan tugas sebagai pejabat publik, ia berbicara untuk seluruh rakyat Indonesia tanpa membedakan latar belakang agama, suku, maupun kelompok sosial. Sikap tersebut mencerminkan prinsip kenegarawanan yang sesungguhnya, yaitu menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan.

Dalam tradisi Muhammadiyah, mengabdi kepada negara bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan nilai keislaman. Justru mencintai tanah air diwujudkan melalui kerja nyata, pelayanan publik, dan kontribusi terhadap kemajuan bangsa. Prof. Abdul Mu'ti menunjukkan bahwa menjadi kader Muhammadiyah berarti siap mengabdi di mana pun amanah diberikan.

Karakter negarawan juga terlihat dari kehati-hatiannya dalam menyampaikan pendapat. Di era media sosial yang sering dipenuhi perdebatan dan polarisasi, ia lebih memilih pendekatan dialog, argumentasi ilmiah, serta bahasa yang menyejukkan. Perbedaan pandangan tidak dijadikan alasan untuk memperuncing konflik. Sebaliknya, ia mengajak masyarakat melihat persoalan secara utuh dan mencari solusi bersama.

Sikap seperti ini menjadi pelajaran penting bagi generasi muda. Kepemimpinan bukanlah kemampuan berbicara paling keras, melainkan kemampuan menghadirkan ketenangan, membangun kepercayaan, dan menyatukan berbagai perbedaan. Dalam banyak kesempatan, Prof. Abdul Mu'ti menunjukkan bahwa kekuatan seorang pemimpin terletak pada integritas, bukan pada popularitas.

Di lingkungan Muhammadiyah sendiri, ia dikenal sebagai sosok yang dekat dengan dunia literasi. Berbagai buku, artikel, dan tulisan ilmiah telah dihasilkannya sebagai bagian dari dakwah intelektual. Tradisi membaca dan menulis menjadi salah satu ciri kader Muhammadiyah yang terus ia hidupkan. Hal ini mengingatkan bahwa perubahan sosial tidak hanya lahir dari kebijakan, tetapi juga dari kekuatan gagasan.

Kesederhanaannya juga terlihat dari gaya hidup yang tidak berorientasi pada kemewahan. Dalam berbagai kegiatan organisasi maupun kenegaraan, ia lebih dikenal karena substansi pemikiran dibandingkan pencitraan. Bagi banyak kader Muhammadiyah, hal tersebut merupakan cerminan nilai ikhlas dalam beramal. Bekerja tanpa harus selalu mencari sorotan merupakan karakter yang sejak lama diajarkan dalam Persyarikatan.

Keteladanan Prof. Abdul Mu'ti juga tampak pada komitmennya terhadap pendidikan karakter. Ia berulang kali menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga harus membentuk manusia yang jujur, bertanggung jawab, disiplin, peduli, dan memiliki semangat gotong royong. Pandangan tersebut sejalan dengan cita-cita Muhammadiyah yang memandang pendidikan sebagai sarana melahirkan manusia beriman, berilmu, dan berkemajuan.

Sebagai tokoh nasional, ia juga memperlihatkan bahwa dialog antara agama, ilmu pengetahuan, dan kebangsaan dapat berjalan secara harmonis. Baginya, pendidikan adalah ruang untuk menumbuhkan toleransi, memperkuat persatuan, sekaligus meningkatkan daya saing bangsa. Karena itu, kebijakan pendidikan tidak hanya berbicara tentang kurikulum, tetapi juga membangun karakter generasi Indonesia yang siap menghadapi masa depan.

Bagi kader muda Muhammadiyah, perjalanan Prof. Abdul Mu'ti memberikan pesan yang sangat jelas. Jabatan bukanlah tujuan akhir, melainkan konsekuensi dari kompetensi, integritas, dan pengabdian yang dilakukan secara konsisten. Pengakuan masyarakat lahir dari rekam jejak, bukan dari pencitraan sesaat.

Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, Indonesia membutuhkan lebih banyak pemimpin yang memiliki karakter seperti Prof. Abdul Mu'ti. Sosok yang sederhana dalam kehidupan, kuat dalam prinsip, luas dalam wawasan, santun dalam komunikasi, serta tulus dalam melayani. Keteladanan semacam inilah yang menjadi modal penting untuk membangun kepercayaan publik sekaligus memperkuat persatuan bangsa.

Pada akhirnya, nilai terbesar yang dapat dipetik dari perjalanan Prof. Abdul Mu'ti bukan hanya keberhasilannya menduduki jabatan strategis, tetapi kemampuannya menjaga akhlak, kesederhanaan, dan semangat pengabdian di setiap amanah yang diemban. Ia memperlihatkan bahwa menjadi warga Muhammadiyah berarti menjadi pribadi yang terus belajar, bekerja untuk kemaslahatan, serta menghadirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. Di situlah letak keteladanan seorang negarawan Muhammadiyah yang sesungguhnya.

Apa reaksi Anda?
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Subscribe to our Newsletter

Dapatkan berita terbaru dan update langsung ke email Anda. Gratis!