Muhammadiyah-PMI Teken MoU, Fokus Perkuat Respons dan Kesiapsiagaan Bencana
YOGYAKARTA - Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Palang Merah Indonesia (PMI) memperkuat kerja sama di bidang kemanusiaan dan penanggulangan bencana. Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) yang mencakup pelayanan kemanusiaan serta peningkatan kapasitas organisasi.
Penandatanganan kerja sama dilakukan Ketua Umum PMI Jusuf Kalla bersama Bendahara Umum PP Muhammadiyah Hilman Latief dalam rangkaian penutupan Rapat Kerja Nasional Lembaga Resiliensi Bencana atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah di Yogyakarta, Ahad, 13 September 2026.
Kolaborasi tersebut menjadi langkah untuk memperkuat koordinasi kedua organisasi dalam menghadapi berbagai situasi kebencanaan. Kerja sama tidak hanya diarahkan pada fase tanggap darurat, tetapi juga mencakup pemulihan setelah bencana.
Ketua Umum PMI Jusuf Kalla menilai penanganan bencana membutuhkan kecepatan, kesiapan sumber daya, serta dukungan logistik yang memadai. Menurutnya, masyarakat yang terdampak bencana membutuhkan bantuan konkret dalam waktu cepat, terutama kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat tinggal dan air bersih.
PMI sendiri menargetkan bantuan dapat tiba di lokasi bencana dalam waktu maksimal enam jam. Target tersebut membutuhkan sistem logistik dan jaringan relawan yang siap bergerak ketika terjadi keadaan darurat.
Selain memperkuat respons saat bencana, Jusuf Kalla juga mendorong Muhammadiyah untuk memperbesar peran dalam pencegahan dan mitigasi. Menurutnya, bencana seperti banjir dan kekeringan perlu ditangani sejak dari sumber persoalan, termasuk melalui upaya menjaga lingkungan.
Muhammadiyah dinilai memiliki modal organisasi yang besar untuk menjalankan agenda tersebut. Jaringan rumah sakit, perguruan tinggi, sekolah, organisasi di tingkat daerah hingga relawan menjadi kekuatan yang dapat mendukung kerja-kerja kemanusiaan di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam konteks tersebut, keberadaan Lembaga Resiliensi Bencana Muhammadiyah atau MDMC menjadi salah satu bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan organisasi. Rakernas LRB Muhammadiyah 2026 sendiri mendorong penguatan kapasitas, jejaring, serta arah kerja penanggulangan bencana agar tidak berhenti pada respons setelah bencana terjadi.
Kerja sama Muhammadiyah dan PMI diharapkan dapat memperluas koordinasi dalam pelayanan kemanusiaan sekaligus meningkatkan kemampuan kedua organisasi dalam menghadapi risiko bencana.
Kolaborasi ini juga menegaskan pentingnya pendekatan yang lebih menyeluruh dalam penanggulangan bencana. Pencegahan, kesiapsiagaan, respons darurat hingga pemulihan perlu berjalan dalam satu rangkaian kerja yang terkoordinasi.
Dengan jaringan organisasi yang luas dan pengalaman dalam aksi kemanusiaan, Muhammadiyah dan PMI memiliki ruang besar untuk memperkuat peran masyarakat dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana di berbagai daerah Indonesia.