Dari Media Cetak sampai Media Sosial: Bagaimana Otoritas Agama Dipengaruhi
Penemuan mesin cetak telah mengubah lanskap sosial masyarakat, yang pada awalnya buku di salin satu per satu, kini bisa dihasilkan banyak sekaligus. Penyebaran buku-buku telah memberikan kesadaran baru terhadap masyarakat, semakin banyak buku, semakin banyak masyarakat tercerahkan. Di Indonesia, keberadaan mesin cetak tidak lepas dari pengaruh kolonial Belanda. Pada masa itu mesin cetak dihadirkan untuk menerbitkan sejumlah buku, koran, dan majalah.
Pada masa ini Islam Indonesia mengadopsi media cetak dengan menghadirkan sebuah tulisan, berbagai pengetahuan soal Islam diterbitkan dalam koran maupun majalah. Bahkan salah satu organisasi Islam Muhammadiyah, memanfaatkan media cetak dengan menampilkan Majalah Suara Muhammadiyah yang berisikan tulisan, ajaran, dan pemahaman mengenai Muhammadiyah.
Majalah Al-Imam dan Majalah Al-Munir, ikut serta memberikan pembaruan Islam dalam sejumlah tulisan.Pada masa ini sejumlah buku keagamaan Islam ditulis oleh ulama dalam menguraikan tentang Islam. Nama Haji Malik Abdul Karim Abdullah atau disebut HAMKA dikenal pada masa perkembangan mesin cetak ini, karena telah menulis tentang Islam di Koran Pedoman Masyarakat, lalu mendirikan dan menerbitkan majalah Panji Masyarakat, serta aktif menjadi editor dan majalah Gema Islam. Setelah kehadiran media cetak, muncul media berupa radio, sebuah saluran suara yang bisa didengarkan oleh orang-orang yang berada jauh.
Melalui radio, Islam hadir dalam bentuk ceramah melalui radio, dan untuk menyampaikan ceramah dengan radio haruslah menampilkan ceramah yang tidak membosankan tapi aktif berinteraksi dengan pendengar, atau memiliki kemampuan berkomunikasi. Dalam masa Ini, Ust. Zainuddin MZ menjadi populer, bahasanya yang lugas tentang ajaran Islam, cepat disambut oleh pendengar radio.
Di Radio, Ust. Zainuddin MZ tidak berceramah secara langsung tapi rekamannya diputar oleh radio lokal baik ketika pagi maupun sore, beliau mengemas ceramahnya dengan humor, serta menggunakan diksi yang khas “betul?”, yang membuat para pendengarnya merasa secara langsung berinteraksi dengan penceramah. Perkembangan selanjutnya media berupa radio, berkembang jadi media televisi, pada masa ini bukan hanya suara yang dipentingkan tapi juga penampilan.
Keberadaan televisi telah memengaruhi pendakwah yang diistilah dengan dakwahtainment, kelanjutan dari radio, pada televisi tidak cukup hanya suara untuk komunikasi, tapi diperlukan juga sebuah tampilan. Karena media televisi memungkinkan penonton melihat langsung wujud si penceramah. Pada masa ini munculah pendawak televisi seperti Aa Gym, Ust. Yusuf Mansur, Ust. Arifin Ilham, Ust. Jeffry Al Buchori. Televisi membuat program acara ceramah untuk menampilkan sejumlah pendakhwa, di Chanel RCTI ada Hikmah Fajar yang menampilkan ceramah Aa Gym, beliau mengenalkan konsep manajemen qolbu, membahas seputar kehidupan sehari-hari, keluarga, dan etos kerja.
Lalu Chanel ANTV ada Wisata Hati yang menampilkan Ust. Yusuf Mansur dengan membawakan tema seputar sedekah. Chanel TPI ada Indonesia berdzikir yang menampilkan Ust. Arifin Ilham yang mengajak untuk berdzikir lalu ada Kumis (Kuliah Muslim Remaja) yang menampilkan Ust. Jeffry Al Buchori yang membawakan pesak dakwah secara santai dan jenaka.
Seiring perkembangan media televisi berubah menjadi media sosial, pada masa ini kemampuan dalam suara dan tampilan tetap menentukan, akan tetapi berbeda dengan televisi yang ditentukan oleh produsen televisi untuk memilih siapa pendakwah yang tampil. Pada media sosial, seorang pengguna media sosial bisa memilih mendengarkan siapa saja ustaz yang menyampaikan ceramahnya di media sosial. Dan ini membawa nama-nama ustaz dari media sosial jadi populer di tengah masyarakat seperti Ust. Abdul Somad, Ust. Adi Hidayat, dan Ust. Hanan Attaki.
Keberadaan media sosial tidak hanya menampilkan Ustaz yang memiliki pemahaman agama yang mendalam, tapi turut serta menampilkan ustaz yang tidak memiliki pengetahuan agama mendalam yang memiliki kemampuan story telling. Ihwal ini membuat otoritas agama mengalami pergeseran, seorang pendakwah terkadang dilihat bukan dari latar pengetahuan agamanya, tapi kemampuannya untuk bisa menyesuaikan dengan model media sosial dan story telling” Terbaru, kehadiran AI telah bisa menghasilan pendakwah AI yang dipercaya sebagai otoritas, seperti fenomena kemunculan Ustazah Nia Hajar yang tampilan dan pesan dakwahnya diciptakan dari AI.
Hal ini membawa konsekuensi akan otoritas agama, karena banyak yang mengikuti dan mengidolakan Ustazah AI tanpa melihat sosok tersebut bukanlah manusia yang memiliki pengetahuan keagamaan yang mendalam.