Muhammadiyah Yang Aku Pahami
Muhammadiyah Yang Aku Pahami Aku bukanlah orang yang berasal dari organisasi Muhammadiyah, tapi sejak di kampung dulu sering mendengar organisasi ini. Waktu itu yang aku pahami, Muhammadiyah adalah aliran yang menolak tahlilan, salat tarawih 8 rakaat, dan lebaran idul fitri lebih dulu. Dan waktu itu belum tahu apa-apa soal Muhammadiyah. Sewaktu kuliah di Banjarmasin, pertama kalinya ikut tarawih 8 rakaat di Masjid Muhammadiyah, alasannya sederhana karena lebih cepat saja dibanding tarawih 20 rakaat. Tapi perkara tahlilan dan ziarah masih mengikuti apa yang telah diajarkan oleh orang tua dan masyarakat sekitar di kampung. Tapi masih bertanya-tanya, kenapa Muhammadiyah menolak tahlilan.
Ketika melanjutkan perkuliahan di Jogjalah pertanyaan ini terjawab, aku membaca buku-buku soal Studi Islam, sejarah Islam di Indonesia, dan munculnya organisasi Islam di Indonesia. Kehadiran Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah, terutama kolonialisme. Pada masa kolonial, semua negara yang berpenduduk Islam berada di bawah jajahan negara Eropa, dari Indonesia yang dijajah Belanda, Malaysia yang dijajah Inggris, Mesir yang dijajah Prancis, dan berbagai negara Islam lainnya.
Situasi ini membuat para ulama mempertanyakan kenapa banyak wilayah Islam terjajah, dan kenapa Islam tertinggal. Salah satu ulama yang menjawab pertanyaan tersebut adalah Syekh Muhammad Abduh ulama dari Mesir yang sempat menjadi pemimpin Al-Azhar. Menurut Syekh Muhammad Abduh alasan Islam tertinggal, karena pengikutnya tidak lagi berpijak pada Al-Quran dan Hadis, serta tertutupnya pintu ijtihad sehingga tidak bisa mengikut perkembangan zaman. Bagi Syekh Muhammad Abduh untuk Islam bisa maju, adalah mengikuti perkembangan zaman, Islam harus dikontektualiasikan, dalam hal ini munculan gagasan Islam Modernis.
Pemikiran Syekh Muhammad Abduh ini berkembang dan jadi pembicaraan hangat di kalangan ulama, sampai akhirnya dipelajari oleh Muhammad Darwis atau lebih sering dipanggil K.H. Ahmad Dahlan. Sekembalinya ke Jogja, K.H. Ahmad Dahlan menyebarkan gagasannya lewat organisasi Muhammadiyah yang didirikan pada tahun 1912. Muhammadiyah berfokus pada tiga hal yang dianggap penting, yang pertama pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan, maka untuk mewujudkan ini adalah dengan mendirikan sekolah, rumah sakit, dan panti sosial. Lalu kenapa Muhammadiyah anti tahlilan, sebenarnya selain Syekh Muhamamd Abduh, yang memengaruhi K.H.
Ahmad Dahlan adalah Syekh Muhammad Abdul Wahab yang memahami bahwa Islam harus dimurnikan dari praktek-praktek yang tak pernah ada dalam Al-Quran, Hadis, dan dilakukan oleh Sahabat dan Tabi'in. Dan Praktek itu adalah tahlilan, karena tidak tercantum dalam Al-Quran dan Hadis, maka pelaksanaan tahlilan harus dihindari atau kata lain hal tersebut adalah perbuatan bid’ah, mengadakan apa yang tak ada dalam Islam. Dari gagasan ini munculah kritikan terhadap umat Islam yang menganut tahlilan dan ritual lainnya yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam, maka munculan pembasmian yang disebut TBC yang diambil dari nama penyakit tapi diplesetkan dengan Thagut, Bid’ah, dan Churafat (TBC). Kritik cukup keras dilancarkan oleh Muhammadiyah cabang Sumatra yang digalangi Kaum Muda yang mengkritik kaum Tua.
Keadaan ini lah yang mengkhawatirkan ulama tradisionalis hingga mereka mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926, yang dipimpin pertama kali oleh K.H. Hasyim Asyari. Menariknya kedua pendiri organisasi Islam yakni K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asyari memiliki guru yang sama yakni Syekh Khatib Al-Minangkabawi yang pernah menjadi Imam Besar Masjidil Haram. Walaupun NU dan Muhammadiyah di organisasi pusat tak pernah lagi berseteru, seperti pada awal pendirian kedua organisasi, sayangya di tingkat akar rumput masih terjadi degradasi perbedaan. Kalau orang NU ya salat di masjid NU saja, kalau Muhammadiyah ya salat di masjid Muhammadiyah saja. Tapi yang menjadi tantangan kedua organisasi saat ini adalah, kemunculan Islam Transnasional yang menyusupi baik di NU dan Muhammadiyah, terutama sekali sebenarnya Muhammadiyah.
Muhammadiyah yang bercorak Islam Modernis, disusupi oleh kalangan Salafi. Salafi yang berasal dari Arab Saudi sangat berkembang pesat di Indonesia, melalui pendakwahnya, media, dan pendirian pesantren Salafi. Saat Muhammadiyah tidak begitu lagi mempermasalahkan soal tahlilan, gerakan Salafi ini membangkitkan lagi sentimen yang dulu menjadi konflik antara NU dan Muhammadiyah, maka seringlah terdengar tahlilan bid’ah, maulid bid’ah, isra mi’raj bid’ah, dan seterusnya. Sehingga Muhammadiyah jadi disalah pahami sama dengan Salafi, padahal keduanya berbeda.