PCPM Tiwingan Konsisten Gelar Santunan dan Sunatan Massal Sejak 1989
Tiwingan - Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Tiwingan kembali melaksanakan kegiatan santunan anak yatim piatu dan sunatan massal pada tahun 2026. Kegiatan sosial yang sudah berjalan sejak tahun 1989 itu kini memasuki pelaksanaan ke-37 dan terus menjadi agenda tahunan yang dinantikan masyarakat, khususnya warga kurang mampu di wilayah Kecamatan Aranio.
Selama puluhan tahun, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bentuk kepedulian sosial, tetapi juga menjadi simbol semangat dakwah dan pengabdian PCPM Tiwingan di tengah masyarakat. Meski berada di wilayah dengan jumlah warga Muhammadiyah yang tergolong minoritas, para kader tetap berkomitmen menjalankan kegiatan sosial secara konsisten dari generasi ke generasi.
Ketua panitia menyampaikan bahwa keberlangsungan kegiatan hingga 37 kali pelaksanaan tidak lepas dari kepercayaan para donatur, terutama warga Muhammadiyah yang terus memberikan dukungan setiap tahunnya.
“Kegiatan ini bisa terus berjalan karena kami mampu menjaga kepercayaan para donatur, khususnya warga Muhammadiyah. Selain itu, semangat dan kegigihan para pendiri sampai generasi sekarang menjadi kekuatan utama kami,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kegiatan santunan dan sunatan massal tetap berjalan bahkan saat masa pandemi Covid-19. Namun pada waktu itu, pola pelaksanaan menyesuaikan kondisi. Bantuan sembako dibagikan langsung ke desa-desa untuk menghindari kerumunan masyarakat.
“Waktu Covid-19, kegiatan tetap berjalan. Hanya saja pembagian sembako dilakukan langsung ke desa-desa,” tambahnya.
Pada pelaksanaan tahun 2026, terdapat 12 desa yang menerima santunan dan layanan sunatan massal. Setiap desa mendapat alokasi 10 penerima manfaat yang terdiri dari tujuh kaum duafa dan tiga peserta sunatan massal. Namun jumlah peserta sunatan massal dapat berubah setiap tahunnya sesuai kebutuhan masyarakat.
Khusus tahun ini, jumlah peserta sunatan massal mencapai 20 orang. Seluruh peserta mendapatkan bantuan dan fasilitas dari panitia, mulai dari perlengkapan hingga uang transportasi.
Paket santunan yang diberikan juga cukup lengkap. Setiap penerima memperoleh bantuan berupa beras, gula, sirup, susu kaleng, kopi, garam, minyak goreng, teh, kecap manis, sarung, serta uang transport untuk peserta kegiatan.
Panitia menyebutkan, nilai bantuan setiap tahun selalu berbeda menyesuaikan kondisi harga kebutuhan pokok. Pada tahun 2026, nilai satu paket santunan mencapai sekitar Rp384 ribu, sedangkan biaya untuk satu peserta sunatan massal sebesar Rp700 ribu.
Selain kegiatan sosial, acara juga diisi dengan ceramah agama yang disampaikan oleh Ustadz Muhaimin. Tausiah tersebut memberikan motivasi kepada masyarakat agar terus menjaga semangat kebersamaan, kepedulian sosial, dan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
PCPM Tiwingan juga menyampaikan harapan agar kegiatan yang sudah berlangsung puluhan tahun itu mendapat dukungan lebih luas dari berbagai pihak, terutama dari jajaran Muhammadiyah, Aisyiyah, dan organisasi otonom lainnya.
“Kami berharap ada dukungan dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah, Aisyiyah, dan ortom lainnya. Ketika kami mengadakan kegiatan, kami berharap dibantu secara moril maupun materi,” ungkap panitia.
Menurutnya, kondisi sebagai minoritas di Desa Tiwingan dan Kecamatan Aranio tidak membuat semangat kader Muhammadiyah menjadi kecil. Justru keadaan tersebut menjadi motivasi untuk terus bergerak dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.
“Mungkin kami minoritas di Tiwingan dan Aranio. Tapi semangat kami tidak kalah besar dengan Gunung Matang Keladan yang ada di belakang Masjid Muhammadiyah Ammar Bin Yasir,” katanya penuh semangat.
Ia menegaskan, 37 kali pelaksanaan menjadi bukti nyata bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar program biasa, melainkan bentuk pengabdian panjang yang dijaga secara istiqamah selama 37 tahun.
“Ini bukan untuk sombong atau membanggakan diri. Tapi kami ingin terus berlomba dalam kebaikan atau fastabiqul khairat,” tutupnya.
Komentar (1)
Muhammad Izharifani
Semangat Kawan-Kawan PCPM Tiwingan🙏