Dari Niqab Hitam ke Niqab Trendy: Negosiasi Kesalehan Muslimah di Era Media
Tiga tahun yang lalu, sempat populer pelepasan niqab oleh Inara di depan publik media. Peristiwa jadi perdebatan di ruang publik, terlebih muslimah pengguna niqab, mereka tidak setuju dengan apa yang dilakukan Inara. Tapi Inara dalam konferensi pers tangal 18 Mei 2023 didampingi Ustadz Derry Sulaiman mencoba mencari pembelaan dari apa yang ia lakukan. Tujuannya melepas niqab adalah untuk mencari nafkah di tempat perawatan kecantikan Dokter Richard usai bercerai dengan suami.
Terlepas dari peristiwa tersebut, hal menarik adalah niqab yang digunakan Inara berwarna cerah, bukan niqab hitam yang tampak konservatif. Fenomena penggunan niqab jika ditelusuri sejarahnya bukanlah berasal dari Al-Qur’an dan Hadis, tetapi sudah ada jauh sebelum kedatangan Islam. Niqab bukanlah berasal dari Arab, tapi bersumber dari Syria dan Palestina yang pada waktu itu di bawah dominasi kebudayaan Romawi. Niqab dianggap sebagai status sosial yang lazim dikalangan orang-orang Yunani, Romawi, Yahudi dan Asyria.
Pada masa Islam awal, model berpakaian niqab tetap berlangsung. Nabi Muhammad Saw juga tidak keberatan atas model pakaian tersebut, namun tidak sampai mewajibkan, menghimbau, atau pun menyunahkan niqab kepada perempuan. Sampai akhir abad ke 20, Niqab sendiri lebih populer dikalangan Muslim Timur Tengah, namun tidak begitu populer dikalangan Muslim Indonesia, NU dan Muhammadiyah sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia tidak mempopulerkan penggunaan niqab.
Penggunaan niqab di Indonesia dimulai pada tahun 1980-an yang masih menjadi subkultur minoritas di kalangan masyarakat Muslim Indonesia yang mengadopsi budaya Arab. Model pakaiannya yang serba hitam, menutupi seluruh badan dan hanya menyisakan kedua mata sering diidentikkan dengan paham Wahabi dan Salafi. Fenomena penggunaan niqab mulai bertrasformasi ditandai dengan runtuhnya rezim Orde Baru yang memasuki era Reformasi 1998. Pada masa Reformasi, pemahaman publik mengenai Islam tidak lagi ditentukan oleh lembaga Islam seperti MUI, NU, dan Muhammadiyah, ataupun juga tokoh seperti Cendekiawan Muslim dan Ulama.
Imajinasi Islam digambarkan oleh media-media yang mereprentasikan Islam baik ditelevisi atau pun media cetak. Bertemunya Islam dengan kebebasan media dan modernisme membentuk sebuah fase baru yang disebut dengan Islam pasar. Saat ini, model keberislaman ditentukan oleh media-media yang menggambarkan tentang Islam melalui ustaz selebriti. Niqab biasa diidentikkan dengan gerakan Salafi yang konservatif. Selain itu, beberapa orang tua sangat berat hati ketika melihat anaknya bercadar karena identik dengan kelompok radikal dan teroris.
Ditambah lagi stigma masyarakat yang juga mengencam pengguna niqab dengan sebutan ninja, aliran sesat, dan julukan lainnya. Pada media sosial instagram, niqab yang identik dengan konservatisme berusaha bernegosiasi dengan menampilkan citra yang lebih trendy. Niqab yang pada awalnya gelap dan berwarna polos yang difungsikan untuk menjaga perempuan dari perilaku pria jahat. Menunjukkan sebuah larangan bagi muslimah konservatif untuk menarik lawan jenis. Di instagram pengguna niqab keluar dari aturan tersebut dengan tampil menggunakan niqab yang lebih berwarna serta menampilkan muslimah yang bisa menyesuaikan dengan budaya populer. Perubahan tampilan niqab sendiri bukan tanpa alasan.
Salah satu penyebab niqab hitam berubah menjadi niqab cerah, dikarenakan niqab hitam diidentikkan dengan gerakan teroris. Pengeboman di gereja Surabaya tahun 2018 memberikan dampak bagi pengguna niqab hitam dicap sebagai teroris. Menangkap fenomena tersebut desainer Muslimah seperti Diana Nurliana berinisiatif untuk membuat niqab yang berwarna cerah. Mereka berpendapat bahwa niqab cerah bukanlah sebuah dosa asalkan tidak berlebihan. Selain Diana Nurliana salah satu pengguna niqab yang biasa tampil di ruang publik adalah selebgram Wardah Maulina (@wardahmaulina_), dalam postingannya di instagram terlihat Wardah tampil dengan Niqab yang begaya trendy. Wardah sendiri memiliki latar belakang sebagai mahasiswa fashion design di Universitas Telkom Bandung, latar tersebutlah yang membuatnya mampu menegosiasikan pakai niqab yang kaku menjadi tampil trendy.
Popularitas Wardah Maulina mulai melejit ketika kisah cinta bersama suaminya Natta Reze mulai populer. Mereka berkenalan melalui instagram, saat Natta Reza tidak sengaja melihat bio Wardah Maulina yang bertuliskan “ingin nikah mudah.” Natta Reza kemudian memberanikan diri mengirim pesan ke Wardah Maulina untuk mengajak menikah. Semenjak kisah asmara mereka menanjak, banyak anak muda tertarik mengikut instagram Wardah Maulian dan Natta Reza. Mereka diundang ke berbagai tempat menceritakan pengalaman pertemuan mereka. Dalam setiap postingan, Wardah menggunakan pakaian niqab yang trendy, dari sini ia menjadi endorsment sejumlah niqab dan pakaian syar’i.
Model Niqab yang ditunjukkan oleh Diana Nurliana maupun Wardah Maulina berupaya mengubah stigma negatif pengguna niqab. Meskipun pada dasarnya keluar dari aturan konservatif yang melarang penggunaan niqab cerah karena dikhawatirkan menarik lawan jenis. Meski begitu, terdapat sejumlah ustazah yang menggunakan niqab memperboleh niqab berwarna berdsarkan pada cerita istri Nabi menggunakan niqab berwarna. Belakangan fenomena ini banyak diikuti Muslim perempuan yang menggunakan niqab trendy yang menggunakan warna cerah dari remaja muslimah di Madrasah dan SMA, mahasiswi di kampus umum dan kampus Islam, hingga di kalangan artis yang belakangan hijrah. Muslimah niqab trendy mengikuti Wardah Maulina, tampil aktif di instagram dengan busana niqab yang cerah dan model busana syar’i yang fashionable.
Sebelum kehadiran fenomena niqab trendy sudah ada komunitas niqab squad, akan tetapi niqab yang digunakan berwarna hitam dan tidak begitu populer dibanding penggunaan niqab trendy. Pengguna niqab trendy tidak seperti kalangan niqab di Salafi yang tidak mau menunjukan foto dirinya di media sosial yang cenderung menggunakan foto anomin serta postingan berupa nasehat dan ayat-ayat Al-Quran. Mereka eksis menggunakan media sosial untuk memposting foto-foto mereka. Bahkan lebih jauh pengguna niqab menggunakan tiktok untuk mengikuti tren yang sedang berlangsung. Peristiwa ini mendapat kecaman ustaz-ustaz dan warganet atas perilaku mereka yang tak sepantasnya pengguna niqab bermain tiktok.
Fenomena ini menunjukan seakan berkelindanya arus hijrah yang ditandai dengan perubahan pakaian, kesenangan anak muda, dan pasar. Meski menggunakan niqab sebagai pakaian syar’i mereka tidak ingin meninggalkan kesenangan untuk tetap eksis di media sosial. Pakaian niqab trendy ini disambut pasar dengan memproduksi niqab berbahan terbaik serta model yang fashionable, yang pada akhirnya menjadi konsumerisme pengguna niqab trendy.