Ads Hostinger

Opini Pembaca

Opini Pembaca

Membaca Sisi Lain Fenomena Hijrah

Membaca Sisi Lain Fenomena Hijrah

Mendengar kata “hijrah” yang terbesit dalam pikiran kita adalah perubahan perilaku seseorang yang sebelumnya tidak baik menjadi baik, tren hijrah telah menggejala di kalangan anak muda hingga selebrita. Hijrah digambarkan mengubah penampilan dari yang sebelumnya tidak berjilbab menjadi berjilbab, dari yang sebelumnya tidak menutup aurat jadi menutup aurat, dari yang sebelumnya berpacaran memilih jomlo, dari yang sebelumnya bermusik memilih meninggalkan musik, dan berbagai macam lainnya.

Tren ini terlihat positif untuk mengubah seseorang yang sebelumnya tidak baik menjadi baik, namun dalam konteks sosial tren hijrah jadi sebuah hal yang menyebalkan. Ada perasaan eksklusif merasa diri paling benar dan menyalahkan orang lain, anak muda yang mengikuti hijrah seringkali dengan gampang menghakimi orang-orang yang belum hijrah sebagai manusia yang tak layak, dan akibat hijrah juga monopoli kebenaran tentang Islam yang hanya dimiliki oleh kelompoknya saja.

 Pandangan ini misalnya mengenai haramnya musik, bagi kalangan yang baru hijrah dengan cepat berpendapat bahwa kalangan yang masih menggunakan musik maka telah melakukan dosa. Model pandangan ini tidak mentolerir pandangan yang berbeda dari ulama yang membahas soal musik yang diporbolehkan saja, terutama musik yang mengandung kebaikan di dalamnya. Pun demikian dalam berpakaian, kalangan hijrah hanya berpendapat bahwa bercadarlah pakaian yang paling benar hingga menyalahkan perempuan lain yang tidak menggunakan cadar.

Begitu juga dengan pandangan soal bid’ah memberikan pemahaman bahwa apa yang tidak dikerjakan Nabi, sahabat, tabi’in, namun dikerjakan oleh kalangan Muslim makan perbuatan tersebut dianggap dosa. Begitupun jika bicara soal kenegaraan, bagi kalangan hijrah hanya ada satu sistem hukum Islam dan umat Muslim harus mendirikan negara Islam yang dipimpin oleh pemimpin Muslim, menjadikan hukum Islam sebagai sumber hukum negara. Memandang apapu yang menghalangi penerapan hukum Islam dan berdirinya negara Islam adalah pandangan yang keliru, dengan tuduhakn sekuler dan liberal.

Perasaan lebih baik daripada orang lain menggejalaa di kalangan anak muda hijrah, memandang orang yang belum hijrah sebagai orang yang belum tersadarkan dan perlu diingatkan berkali-kali. Pernah muncul tren komentar “sekadar mengingatkan” yang hadir di setiap pengguna media sosial yang tidak menutup aurat agar menutup aurat, tujuannya yang terlihat mulia untuk berdakwah malah jadi hal yang menyebalkan, karena orang yang memberi komentar tidak pernah berjumpa dan berinteraksi lain dengan pengguna media sosial tersebut dan tiba-tiba saja langsung mengingatkan, alih-alih menyadarkan hal tersebut malah membuat orang sebal. Dan akhirnya kata “sekadar mengingatkan” menjadi bahan bercandaan.

Hal paling berbahaya dari hijrah adalah perasaan lebih baik dari orang lain dan menggiring pada tindakan yang intoleransi, berbagai tindakan ini tergambar seperti berbaur hanya sesama kelompok yang sepaham saja, mudahnya mengkafirkan dan membid’ahkan pandangan yang berbeda. Pada titik yang ekstrem pandangan ini berubah jadi menghalakan tindakan bom bunuh diri yang dilakukan kepada umat lain. Pada pandangan yang radikal, ada perasaan hanya kelompoknya yang benar dalam memahami Islam, sedangkan yang di luar kelompoknya dianggap keliru.

Pada sisi yang lain, hijrah pun menjadi komoditas yang bisa dijadikan keuntungan ekonomi, para artis yang hijrah mendapatkan wajah merek dari berbagai barang, dari mulai jilbab, pakaian, pembersih muka, sikat gigi, hingga obat herbal. Label halal pun disematkan dalam berbagai merek bahkan termasuk kulkas. Komoditas ini pun sangat digemari kelas menengah yang sedang dalam fase hijrah. Dari sinipun bermunculanlah film dan novel soal hijrah yang menjadi komoditas baru dalam masyarakat.

Apa reaksi Anda?
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Subscribe to our Newsletter

Dapatkan berita terbaru dan update langsung ke email Anda. Gratis!