Ads Hostinger

Pemerintahan

Pemerintahan

Teddy Jawab Kritik Dino Patti Djalal soal Kunjungan Luar Negeri Prabowo, Sebut Hasil Diplomasi Sudah Terlihat

Teddy Jawab Kritik Dino Patti Djalal soal Kunjungan Luar Negeri Prabowo, Sebut Hasil Diplomasi Sudah Terlihat

JAKARTA, 2 Juni 2026 — Polemik mengenai frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto mendapat tanggapan langsung dari Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Respons itu muncul setelah mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menyampaikan sejumlah saran agar pemerintah mengurangi intensitas perjalanan luar negeri Presiden demi efisiensi anggaran dan efektivitas kerja diplomasi. 

Dino sebelumnya menilai frekuensi lawatan internasional Presiden cukup tinggi. Dalam pandangannya, sebagian komunikasi dengan pemimpin dunia dapat dilakukan melalui panggilan video atau telepon sehingga negara dapat menghemat biaya perjalanan yang nilainya mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah dalam satu kunjungan. Ia juga menyarankan agar lebih banyak pertemuan bilateral dilakukan saat forum internasional berlangsung serta memberi peran lebih besar kepada Menteri Luar Negeri dalam menjalankan misi diplomatik tertentu. 

Menanggapi hal tersebut, Teddy menyatakan pemerintah menghargai seluruh kritik dan masukan yang diberikan. Namun, menurutnya, penilaian terhadap kunjungan luar negeri Presiden harus melihat hasil konkret yang telah dicapai Indonesia melalui diplomasi internasional. 

Teddy menjelaskan bahwa biaya yang melebihi anggaran resmi negara dalam perjalanan luar negeri Presiden ditanggung secara pribadi oleh Prabowo. Ia juga menegaskan jumlah rombongan Presiden saat kunjungan ke luar negeri telah dipangkas secara signifikan dibandingkan periode pemerintahan sebelumnya. Menurutnya, saat ini jumlah delegasi yang ikut berkisar antara 50 hingga 60 orang, jauh lebih sedikit dibanding masa lalu yang bisa mencapai lebih dari 120 orang. 

Selain itu, Teddy menyebut tidak semua agenda luar negeri dapat direncanakan jauh hari sebelumnya. Situasi geopolitik dan dinamika global yang berubah cepat membuat pemerintah harus menyesuaikan jadwal diplomasi sesuai kebutuhan nasional dan perkembangan internasional. 

Pemerintah juga menilai hubungan langsung antar kepala negara masih memiliki nilai strategis yang tidak selalu dapat digantikan oleh komunikasi virtual. Teddy menyebut pendekatan personal dengan para pemimpin dunia menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan dan memperkuat posisi Indonesia dalam berbagai kerja sama internasional. 

Dalam penjelasannya, Teddy turut memaparkan sejumlah capaian diplomasi yang diklaim sebagai hasil dari berbagai lawatan Presiden. Di antaranya peningkatan kerja sama internasional, masuknya Indonesia ke kelompok BRICS, hingga realisasi investasi yang disebut mencapai lebih dari Rp2.400 triliun dalam periode pemerintahan saat ini. 

Perdebatan antara Dino Patti Djalal dan Teddy Indra Wijaya kini menjadi sorotan publik. Di satu sisi muncul tuntutan efisiensi anggaran negara, sementara di sisi lain pemerintah menegaskan bahwa diplomasi tatap muka tetap menjadi instrumen penting untuk menjaga kepentingan Indonesia di tengah dinamika global yang semakin kompleks. 

Apa reaksi Anda?
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Subscribe to our Newsletter

Dapatkan berita terbaru dan update langsung ke email Anda. Gratis!