oleh : Sugianoor*
Pilkada 2029 atau 2031 mendatang berpotensi menjadi kontestasi yang lebih menarik dan kompetitif. Hal ini seiring dengan semakin terbukanya ruang persaingan antar kandidat yang relatif lebih setara.
Dinamika politik yang terus bergerak membuat proses ini tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang masih jauh, maupun terlalu dekat. Politik selalu berjalan dalam ritmenya sendiri, dinamis dan penuh kemungkinan.
Sejak dini, menarik untuk menelaah siapa saja figur yang berpotensi maju dalam pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Balangan. Indikator awal dapat dilihat dari posisi, jabatan, serta rekam jejak karier, baik di ranah politik maupun birokrasi.
Dari kalangan politisi, terdapat sejumlah nama yang memiliki peluang cukup besar untuk ikut berkontestasi.
Pertama, Sri Huriyati Hadi. Ia merupakan Ketua PPP Balangan, Ketua Komisi II DPRD Balangan, sekaligus Ketua TP PKK Balangan. Dengan posisi strategis tersebut, kans Sri Huriyati Hadi terbilang kuat, terlebih PPP merupakan partai pemenang. Sosoknya juga dapat dipandang sebagai representasi keberlanjutan dari pemerintahan yang berjalan saat ini.
Kedua, Wakil Bupati Balangan, Akhmad Fauzi. Sebagai petahana di posisi wakil kepala daerah, peluangnya untuk maju sebagai calon bupati cukup terbuka. Modal struktural, pengalaman pemerintahan, serta jejaring politik yang luas menjadi kekuatan utama yang dimilikinya.
Ketiga, Wakil Ketua II DPRD Balangan, Saiful Arif. Selain memiliki posisi penting di legislatif, ia juga merupakan tokoh sentral Partai Demokrat di Balangan. Basis sosialnya yang tersebar di wilayah Lampihong dan Awayan menjadi nilai tambah dalam membangun dukungan elektoral.
Keempat, Abdul Haris Makkie. Ia adalah Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Balangan periode 2025–2030, sekaligus mantan Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan. Kombinasi pengalaman birokrasi dan politik menjadikannya salah satu figur yang patut diperhitungkan dalam kontestasi mendatang.
Kelima, M. Nor Iswan, Ketua PKS Balangan. Peluangnya untuk kembali maju masih terbuka lebar. Selain didukung oleh mesin partai yang dikenal solid dan militan, ia juga memiliki citra sebagai sosok muda, energik, dan berkarakter akademis.
Keenam, Dimas Febriadi, anggota DPRD Balangan dari Partai NasDem. Sosok yang akrab disapa Boy ini memiliki pengalaman mengikuti kontestasi Pilkada sebelumnya. Latar belakangnya sebagai mantan birokrat serta faktor keluarga sebagai putra dari mantan Bupati Balangan dua periode, Sefek Effendie menjadi modal politik tersendiri.
Terakhir, Akhmad Ritaudin atau Haji Ita, Ketua PAN Balangan. Meningkatnya perolehan suara PAN pada Pileg terakhir menunjukkan adanya penguatan posisi politik. Ditambah dengan dukungan finansial serta jejaring yang luas, hal ini menjadi nilai tawar yang signifikan dalam menghadapi Pilkada mendatang.
Di luar nama-nama tersebut, tentu masih terbuka peluang bagi figur lain untuk muncul. Namun, secara kasat mata, kandidat dari kalangan politisi memang lebih dominan.
Sementara itu, dari kalangan birokrat, jumlah kandidat potensial relatif lebih terbatas. Hal ini sejalan dengan tren pada Pilkada sebelumnya, di mana figur birokrat cenderung tidak banyak muncul sebagai kontestan utama.
Beberapa nama yang berpotensi di antaranya adalah H. Tamrin, Kepala Dinas Pertanahan dan Lingkungan Hidup (DPLH) Kabupaten Balangan. Selain pengalaman birokrasi, ia juga memiliki jaringan sosial dan basis kultural melalui lembaga pendidikan yang dikelolanya.
Kemudian, Hifziani, mantan Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Balangan. Ia memiliki potensi untuk masuk dalam bursa kandidat, mengingat pernah memiliki keinginan maju pada Pilkada sebelumnya. Jaringan sosial yang luas juga menjadi modal penting dalam membangun dukungan.
Pada akhirnya, kita tentu berharap semakin banyak kandidat yang tidak sekadar hadir sebagai “pajangan nama”, tetapi benar-benar menawarkan gagasan konkret untuk masa depan Balangan.
Baik politisi maupun birokrat yang tengah mempersiapkan diri, memiliki satu pekerjaan rumah yang tidak bisa ditunda: merumuskan dan menyampaikan gagasan sejak dini. Jangan menunggu masa kampanye untuk mulai berbicara.
Sebab, pemimpin sejati tidak mulai berpikir ketika alat peraga sudah terpasang, tetapi jauh sebelum itu, saat arah masa depan mulai dipertaruhkan.
*Penulis Merupakan Penyuka Sosial dan Politik