Ads Hostinger

Muhammadiyah

Muhammadiyah

Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus, Perkuat Kemandirian Kesehatan dan Ekonomi Umat

Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus, Perkuat Kemandirian Kesehatan dan Ekonomi Umat

MALANG – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melakukan groundbreaking Pabrik Suryavena Farma Indonesia pada Kamis (11/6) di lahan milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pembangunan pabrik ini menjadi langkah strategis Muhammadiyah dalam memperkuat kemandirian industri kesehatan nasional sekaligus mendukung penguatan ekosistem ekonomi Persyarikatan.

Melalui PT Suryavena Farma Indonesia, Muhammadiyah menargetkan hadirnya industri kesehatan yang mampu memenuhi kebutuhan internal jaringan rumah sakit dan klinik Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia. Kehadiran pabrik tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan produk kesehatan dari luar serta menjamin ketersediaan kebutuhan medis yang berkelanjutan.

Ketua PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy menegaskan bahwa pembangunan pabrik infus merupakan bagian dari ikhtiar Muhammadiyah membangun kemandirian di sektor kesehatan. Menurutnya, Muhammadiyah tidak hanya berperan sebagai penyedia layanan kesehatan melalui rumah sakit, tetapi juga harus mampu menguasai sektor industri penunjangnya.

"Kalau kita ingin kuat, maka jangan hanya menjadi pengguna produk kesehatan. Muhammadiyah harus masuk ke sektor produksi agar rantai pasok layanan kesehatan yang dimiliki bisa lebih mandiri dan berkelanjutan," ujarnya.

Direktur Utama PT Suryavena Farma Indonesia, Tatat Rahmita Utami, menjelaskan bahwa kebutuhan cairan infus di lingkungan Muhammadiyah sangat besar. Saat ini Muhammadiyah memiliki sekitar 130 rumah sakit serta ratusan klinik yang setiap hari membutuhkan pasokan cairan infus dan berbagai alat kesehatan lainnya.

Pabrik yang dibangun di Malang tersebut akan mengadopsi teknologi dari Italia untuk menjamin kualitas produk yang dihasilkan. Selain memproduksi cairan infus, perusahaan juga menyiapkan pengembangan berbagai produk kesehatan lainnya yang dibutuhkan oleh fasilitas layanan kesehatan.

Proyek ini diperkirakan membutuhkan investasi mencapai ratusan miliar rupiah. Lahan yang digunakan memiliki luas sekitar 14 hektare dan telah melalui berbagai kajian teknis, termasuk ketersediaan sumber air yang menjadi komponen utama dalam produksi cairan infus.

Muhammadiyah menargetkan pabrik ini dapat mulai beroperasi dalam beberapa tahun ke depan. Kehadirannya tidak hanya akan memperkuat kemandirian layanan kesehatan Muhammadiyah, tetapi juga berkontribusi terhadap pengembangan industri kesehatan nasional, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan ekonomi umat melalui pengelolaan usaha yang berkelanjutan.

Apa reaksi Anda?
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Subscribe to our Newsletter

Dapatkan berita terbaru dan update langsung ke email Anda. Gratis!