oleh : Muhammad Nashir*
Milad ke-62 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) menjadi momen yang tepat untuk sejenak menoleh ke belakang, mengingat kembali perjalanan panjang organisasi ini sekaligus perjalanan pribadi para kader yang pernah bertumbuh di dalamnya. Bagi saya, IMM bukan sekadar organisasi mahasiswa tempat berproses selama masa kuliah. Lebih dari itu, IMM adalah ruang belajar yang mempertemukan gagasan, persahabatan, serta nilai-nilai perjuangan yang terus membekas hingga hari ini.
Perjalanan saya di IMM dimulai pada tahun 2014. Saat itu saya mengikuti Darul Arqam Dasar (DAD) V yang diselenggarakan di IAIN Banjarmasin—yang kini dikenal sebagai UIN Antasari Banjarmasin. Yang menarik, saat itu saya sebenarnya berkuliah di Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM), yang sekarang menjadi ULM. Dari pengalaman pertama itulah saya mulai merasakan bahwa IMM tidak dibatasi oleh sekat-sekat kampus. Ia menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai latar belakang, dengan semangat yang sama: belajar, berdiskusi, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Melalui DAD, saya mulai mengenal nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi gerakan IMM, yakni Trilogi IMM: religiusitas, intelektualitas, dan humanitas. Tiga nilai ini bukan sekadar konsep yang dibicarakan dalam ruang perkaderan, tetapi perlahan menjadi prinsip yang membentuk cara pandang dalam melihat dunia. IMM mengajarkan bahwa menjadi mahasiswa tidak cukup hanya berprestasi secara akademik. Mahasiswa juga harus memiliki kepekaan sosial dan kedalaman spiritual agar mampu memberi makna bagi kehidupan di sekitarnya.
Seiring waktu, keterlibatan saya di IMM semakin dalam. Dari aktivitas di tingkat komisariat, mengikuti berbagai forum diskusi, hingga terlibat dalam kegiatan-kegiatan organisasi yang mempertemukan kader dengan masyarakat. Di sanalah saya merasakan bahwa IMM tidak hanya mendidik kader untuk berpikir kritis, tetapi juga melatih kepekaan terhadap persoalan sosial.
Salah satu pengalaman yang cukup berkesan adalah ketika saya mengikuti Darul Arqam Madya (DAM) Nasional pada tahun 2019 yang diselenggarakan oleh PC IMM Ciputat. Perkaderan tingkat madya tersebut membuka wawasan yang lebih luas tentang dinamika gerakan IMM secara nasional. Di sana saya bertemu kader-kader dari berbagai daerah dengan latar belakang pemikiran yang beragam. Diskusi yang terjadi sering kali hangat, bahkan kritis, namun semuanya dilandasi oleh semangat yang sama: memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan.
Perjalanan di IMM kemudian membawa saya pada amanah yang lebih besar di tingkat kepemimpinan. Hingga akhirnya pada tahun 2023 saya menyelesaikan tugas sebagai bagian dari Pimpinan di DPD IMM Kalimantan Selatan. Masa-masa itu menjadi pengalaman yang sangat berharga. Di sanalah saya belajar banyak hal tentang kepemimpinan, kerja kolektif, serta bagaimana menjaga semangat gerakan di tengah berbagai dinamika organisasi.
Jika melihat ke belakang, saya menyadari bahwa IMM telah memberikan banyak hal dalam perjalanan hidup saya. Bukan hanya pengalaman berorganisasi, tetapi juga jaringan pertemanan yang luas, ruang diskusi yang memperkaya pemikiran, serta nilai-nilai yang terus menjadi pegangan hingga hari ini.
Kini, di usia ke-62 tahun, IMM tentu menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Perubahan sosial yang cepat, perkembangan teknologi, serta dinamika kehidupan mahasiswa menuntut organisasi ini untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya. Karena itu, menjaga relevansi IMM menjadi hal yang penting, terutama dengan tetap meneguhkan karakter intelektual yang kritis sekaligus membumi di tengah masyarakat.
IMM harus terus menjadi ruang kaderisasi yang melahirkan mahasiswa dengan integritas moral, kedalaman intelektual, dan kepekaan sosial. Kader IMM tidak cukup hanya aktif di ruang-ruang diskusi kampus, tetapi juga perlu hadir di tengah masyarakat, membaca persoalan, dan ikut menjadi bagian dari solusi.
Milad ke-62 ini menjadi pengingat bahwa IMM bukan sekadar organisasi yang kita singgahi selama masa kuliah. Ia adalah rumah ide, rumah nilai, sekaligus ruang pembelajaran yang membentuk cara kita memandang kehidupan.
Selamat Milad ke-62 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Semoga IMM terus tumbuh, tetap membumi di tengah masyarakat, dan menjadi ruang lahirnya generasi intelektual yang membawa perubahan bagi bangsa.
*Penulis merupakan alumnus IMM dan kader muda Muhammadiyah yang kini mengabdi sebagai PNS di Kabupaten Balangan
* Foto diambil di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jakarta, saat pelaksanaan Muktamar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Mei 2016