Perpustakaan Masjid Muhammadiyah Al-Ihsan Kapuas, Ruang Sunyi yang Menghidupkan Tradisi Ilmu Umat
KUALA KAPUAS — Di tengah aktivitas ibadah yang terus berlangsung, Masjid Muhammadiyah Al-Ihsan Kapuas menghadirkan satu ruang penting yang sering luput dari perhatian, yaitu perpustakaan masjid. Kehadiran fasilitas ini bukan sekadar pelengkap, tetapi menjadi bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan beragama di tengah masyarakat.
Perpustakaan Masjid Al-Ihsan kini berfungsi sebagai pusat literasi Islam yang terbuka bagi jamaah. Koleksi buku yang tersedia mencakup berbagai bidang, mulai dari tafsir, hadits, fiqih, hingga buku-buku umum yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kehadiran literatur ini menjadi pendukung kegiatan dakwah dan pengajian yang rutin digelar di masjid.
Pengurus masjid menyadari bahwa dakwah tidak cukup hanya melalui ceramah. Mereka mendorong jamaah untuk membaca, memahami, dan mendalami ajaran Islam secara mandiri. Perpustakaan menjadi ruang sunyi yang memberi kesempatan bagi jamaah untuk belajar tanpa batas waktu.
Salah satu pengurus masjid menyampaikan bahwa perpustakaan ini diharapkan menjadi tempat tumbuhnya budaya membaca di lingkungan masyarakat. “Kami ingin masjid tidak hanya ramai saat shalat, tapi juga hidup dengan aktivitas keilmuan. Perpustakaan ini bagian dari itu,” ujarnya.
Keberadaan perpustakaan ini juga mendapat respon positif dari jamaah. Ahmad, salah satu jamaah, mengaku sering memanfaatkan waktu setelah shalat untuk membaca buku. “Kadang setelah Maghrib saya tidak langsung pulang. Saya sempatkan membaca, apalagi ada buku-buku yang mudah dipahami,” katanya.
Hal serupa disampaikan oleh Siti, jamaah lainnya. Ia menilai perpustakaan ini sangat membantu, terutama bagi ibu-ibu yang ingin belajar agama tetapi terbatas waktu untuk mengikuti pengajian. “Kalau ada waktu, saya datang lebih awal. Sambil menunggu, saya baca buku. Rasanya lebih tenang,” ujarnya.
Meski demikian, pengelola mengakui bahwa koleksi buku masih perlu ditambah. Sejak awal berdirinya, perpustakaan ini memang masih berkembang dan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk donasi buku dari jamaah dan masyarakat luas.
Ke depan, pengurus masjid berencana memperluas fungsi perpustakaan, tidak hanya sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang diskusi kecil, kelas literasi, hingga pembinaan generasi muda. Mereka ingin menjadikan masjid sebagai pusat peradaban yang hidup, bukan hanya tempat ibadah ritual.
Langkah sederhana ini menunjukkan bahwa masjid dapat berperan lebih luas dalam kehidupan umat. Perpustakaan Masjid Al-Ihsan Kapuas menjadi contoh nyata bahwa literasi dan dakwah bisa berjalan beriringan, menghadirkan Islam yang tidak hanya dipahami, tetapi juga dipikirkan secara mendalam.