Haedar Nashir: Intelektualisme Harus Berdampak, Bukan Sekadar Gelar Akademik
DEPOK – Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa intelektualisme tidak boleh dipahami hanya sebatas gelar akademik atau status formal di perguruan tinggi. Ia menekankan bahwa ukuran utama seorang intelektual adalah sejauh mana ilmu yang dimiliki mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam kuliah umum di Universitas Indonesia pada Senin, 13 April 2026. Dalam kesempatan itu, Haedar mengkritik kecenderungan sebagian kalangan akademik yang terlalu terjebak pada diskursus elitis sehingga jauh dari persoalan riil masyarakat.
Menurutnya, intelektual sejati justru hadir sebagai agen perubahan sosial. Mereka tidak hanya berpikir secara teoritis, tetapi juga mampu membebaskan, memberdayakan, dan mencerdaskan kehidupan masyarakat. Ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan harus bergerak dari ruang akademik menuju praktik nyata yang memberi manfaat luas.
Haedar juga menjelaskan konsep intelektual dalam perspektif Islam, seperti ulil albab dan ar rasikhuna fil ilmi. Sosok ini tidak hanya memiliki kedalaman ilmu, tetapi juga mampu membaca realitas secara utuh serta menjelaskan makna di balik suatu persoalan. Ia menyebut, intelektual harus mampu menangkap yang tersirat dari yang tersurat, sehingga dapat memberikan solusi yang tepat bagi masyarakat.
Lebih lanjut, Haedar menekankan bahwa menjadi intelektual adalah sebuah panggilan, bukan sekadar formalitas. Komitmen untuk berpikir tajam, menganalisis persoalan, dan menghadirkan solusi menjadi bagian penting dari peran tersebut. Tanpa keterlibatan nyata, gelar akademik dinilai tidak memiliki arti yang substansial.
Ia bahkan menyebut bahwa seseorang tidak harus menempuh pendidikan tinggi untuk menjadi bagian dari kelompok intelektual, selama memiliki kontribusi nyata dalam memajukan masyarakat. Perspektif ini menegaskan bahwa intelektualisme berakar pada etika pengabdian, bukan simbol prestise.
Melalui pesan ini, Haedar mendorong kalangan akademisi dan generasi muda untuk tidak berhenti pada pencapaian gelar, tetapi menjadikan ilmu sebagai alat transformasi sosial. Ia berharap kehadiran intelektual mampu membawa masyarakat menuju kehidupan yang lebih maju, adil, dan berkeadaban.