Akhlakul Qur’an atau Krisis Moral. Ke Mana Arah Umat Ini
إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرْهُ وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِي اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهدُ أَنْ لاَ إَلَهَ إِلاّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى رَسُوْلِ اللَّهِ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ وَلآَهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.
قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
أما بعد
- Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Alhamdulilah segala pujian hanya milik Allah dengan kasih sayang-Nya menyirami segala kenikmatan dalam hidup didunia, serta hidayah agar tetap istiqomah berada dalam shiratal mustaqim (jalan yang lurus).
Shalawat dan Salam kita haturkan kepada Rasulullah saw, seorang yang teladan kesempurnaan akhlaknya, khususnya dalam menjaga diri untuk tetap taat dan dalam jalan yang benar. Sebagaimana pernah ditanya kepada Aisyah tentang bagaimana akhlak Rasulullah saw, beliau ummul mu’minin menjawab bahwa akhlak Rasulullah saw adalah akhlakul quran.
Pada hari yang mulia ini marilah kita meningkatkan mutu ketakwaan kita yang sebenar-benarnya sampai akhir hayat, dalam setiap waktu dan tempat. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda “ttaqillah haitsuma kunta, wa atbi’issayyiatal hasanata tamhuha, wa kholiqinnasa bi khuluqin hasanin.” Artinya: Bertakwalah kepada Allah dimanapun kita berada, iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, dan bergaulah dengan manusia secara adab yang baik.
- Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Nabi Muhammad saw merupakan seseorang yang dipilih oleh Allah untuk menjadi seorang utusan terakhir, khatimul anbiya’ yakni penutup para nabi untuk menyampaikan risalah agama yang sempurna sebagai petunjuk bagi umat manusia akhir zaman. Beliau dipilih karena memang ketetapan Allah yang sudah pasti sifatnya, untuk menjadikan beliau sebagai Rasulullah saw. Bukan pula pilihan ini adalah ketetapan yang sembarangan, karena memang pada dasarnya nabi Muhammad sejak muda sudah terkenal pribadi yang terbaik di muka bumi.
Bahkan beliau langsung dijaga dan dididik oleh Allah swt, sebagaimana Rasulullah saw bersabda : “Addabani Rabbi fa ahsana ta’dibi” Tuhanku telah mendidikku dan dengan demikian menjadilah pendidikanku yang terbaik.
Ada tiga faktor biasanya yang memberikan peranguh tumbuh kembangnya karakter seseorang yaitu orang tua, lingkungan, dan bacaan. Rasulullah saw dijaga dan disucikan dari tiga faktor tersebut. Seorang yang bisa mempengaruhi diri kita adalah orangtua. Tapi sebelum Nabi lahir, bapaknya sudah meninggal. Kemudian tak lama setelah lahir, ibunya meninggal. Bahkan dalam sebuah cerita, Nabi saat kecil sempat dibawa Malaikat Jibril untuk dibersihkan hatinya dari segala sifat jahat, dan keburukan nafsu.
Beliau lahir ditanah dan lingkungan yang tidak memiliki peradaban maju, tanah Arab yang diapit oleh dua kerajaan besar dan tidak pernah menjadi tempat yang berpeluang maju dan jaya. Beliau juga seorang yang ummi dengan kondisi masyarakat yang juga ummi (tidak bisa membaca dan berhitung) sehingga tidak terpengaruh literasi peradaban luar seperti cina, persia, yunani dan lainnya.
- Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Salah satu tugas mengapa Rasulullah saw menjadi seorang utusan terakhir dalam menyampaikan risalah, ada disebutkan didalam hadis :
عَن أبي هُرَيرة ، عَن النَّبِيّ صَلَّى الله عَلَيه وَسَلَّم قال : إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلاَقِ.
Dari Abi Hurairah, dari Nabi saw bersabda, sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak”.
Maka dari itu, akhlak adalah kunci dan utama dalam syariat Islam ini, maka keliru kita jika menganggap bahwa akhlak itu hanyalah pelengkap dalam ajaran Islam, keliru juga jika kita sering mengotak-kotakkan syariat dengan membagi yang utama tauhid, lalu ibadah, dan terakhir akhlak. Padahal, tauhid dikatakan benar apabila kita memahami dan mengamalkan akhlak yang baik kepada Allah, dan juga kesempurnaan tauhid dalam kita beriman kepada Allah itu menghasilkan kebaikan akhlak terhadap sesama.
Sebagaimana kata Rasulullah saw, akmalul mu’minina imanan ahsanuhum khuluqa (kesempurnaan keimanan seseorang adalah yang paling baik akhlaknya). Kemudian ibadah yang kita laksanakan juga mengharuskan kita untuk memperbagus akhlak, sebagaimana analogi dalam gerakan shalat ketika salam, maknanya adalah bagaimana keharusan kita untuk menjamin dan memberikan keselamatan, kedamaian, dan kehormatan terhadap saudara kita baik yang berada diposisi kanan (sering dikaitkan pada hal positif) ataupun yang kiri (hal negatif). Quran juga menjelaskan bahwa ibadah shalat seharusnya menjadikan kepribadian kita dapat mencegah hal-hal yang keji dan mungkar.
{ ٱتۡلُ مَاۤ أُوحِیَ إِلَیۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَـٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَاۤءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ }
[Surat Al-Ankabut: 45] Bacalah Kitab (Al-Qur`ān) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuautan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
- Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Namun mari kita lihat bagaimana kualitas akhlak bangsa kita ini, moralitas yang buruk justru seringkali dipertontonkan para elite politik pejabat yang memimpin, bagaimana akhlak terhadap kebijakan hukum dinegeri ini ? Sudahkah mencapai akhlak yang baik ?, bukankah hukum kita masih tebang pilih, karena yang masih memiliki kuasa dan modal maka dia bebas dari hukuman. Berbeda orang yang tidak memiliki kekuatan maka cepat hukuman berlaku kepadanya.
Bagaimana orang-orang elite yang super kaya disebut oligarki di Indonesia, dengan jumlahnya hanya 1%, apakah akhlak mereka sudah baik khsuusnya kepada Allah dan kepada sesama, bukankah mereka yang menguasai ekonomi membuat bangsa ini semakin tajam ketimpangannya, melakukan kerusakan alam, proyek ilegal dan merampas hak rakyat kecil.
Bagaimana pula mereka rakyat miskin kota, yang pasrah karena ditindas, yang menganggap bahwa ini adalah ketetapan Allah sehingga dia merelakan hidupnya yang sengsara. Apakah ini akhlak seorang muslim yang baik?, pastilah bukanlah Islam yang benar jika agama itu menghambat kemajuan hidup anda, itu hanyalah pemahaman agama dalam pikiran anda yang sempit dan picik. Islam adalah agama yang senantiasa mendorong kemajuan seseorang dalam hidupnya agar bisa berdaya dan tidak terjebak dalam kubangan kesengsaraan, tidak ada zuhud yang membenarkan kebatilan dan kedzaliman.
Bagaimana pula kualitas akhlak generasi masa depan, anak-anak muda yang jauh dari pendidikan Islam, yang banyak hidup dalam kemudharatan, pergaulan seks bebas, pencabulan, pembunuhan, narkoba, mabuk-mabukan, perzinahan. Inikan menjadi berita harian yang senantiasa muncul dalam aneka kehidupan anak muda kita, generasi yang menjadi titik tumpu harapan ummat. Semua masalah tidak lagi hanya ditempat-tempat yang terkhusus maksiat, bahkan disekolah, pesantren, ditempat ibadah, bahkan dirumah dia tinggal, yang seharusnya tempat-tempat itu adalah tempat yang teraman bagi seorang anak, juga telah terpampang kualitas akhlak yang buruk.
- Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Maka dari itu, kita harusnya sadar bahwa tugas kita adalah menghadirkan pendidikan akhlak yang mulia yaitu akhlakul quran, sehingga al-Qur’an bisa hadir dan memberikan pengaruh positif untuk karakter dan kepribadian ummat, bangsa, dan keluarga. Cara agar Quran tersebut dapat membentuk akhlak adalah dengan menjadikan quran sebagai basis pembelajaran, perenungan, penghayatan, pengamalan dalam segala sektor kehidupan. Baik dalam bekeluarga, dunia pemerintahan, dunia kerja, dunia sekolah dan pesantren, dunia ekonomi pasar, dan hubungan pergaulan lingkungan sosial.
Al-Qur’an harusnya menjadi muara dan silabus kehidupan, para ahli Qur’an untuk zaman ini tidak cukup hanya dijadikan sebagai hafalan, tapi sebagai kajian ilmiah, sehingga menghasilkan berbagai hikmah atas solusi problematika hidup kita bersama. Akhlaqul quran harusnya disuarakan dan menjadi kajiaj utama agar kita mampu membentuk kualitas ummat yang terbaik, belajar dan mentadabburi al-quran harusnya menjadi kewajiban bagi semua orang sehingga bisa mengamalkan sesuai kemampuannya.
Ingatkah ketika Rasulullah saw berdakwah selama 23 tahun, 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Bagaimana cara Rasulullah saw menghadirkan akhlaqul quran bagi umat Islam kala itu, jawabannya sederhana ketika pemimpin bangsa, rakyat dan pemuka agama memiliki sinergitas dan harmonis untuk membangun peradaban masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Sinergitas ini memiliki tujuan yang rahmat yakni menjadikan al-Qur’an sebagai pintu utama kemajuan hidup. Bukan sebaliknya sinergitas dan harmonis dalam merusak tatanan dan peradaban kehidupan. Coba kita lihat Rasulullah, beliau adalah pemimpin politik Madinah, pemimpin agama, dan selalu bersama masyarakat (tidak elitis).
Beliau menjadi gambaran bahwa al-Qur’an yang super ideal itu benar-benar hidup dalam diri Rasulullah saw. Pertanyaannya adalah apakah kita mampu mengikuti perjuangan beliau tersebut, mari kita mulai belajar dan membaca masalah yang ada dilingkungan kita, mampukah keimanan dan keislaman kita menjadi solusi atas masalah tersebut, jangan sampai justru keimanan dan keislaman kita menghasilkan masalah dalam kehidupan sosial. Maka harus kontekstual Islam yang kita miliki ini sesuai perkembangan zaman dengan membuka pintu ijtihad, jangan sampai eksklusif, fanatik buta atas pikirannya atau ustadznya, jangan anti kemajuan, jangan anti pada perbedaan dan keragaman. Karena di Madinah juga negeri yang penuh keragaman.
Negeri Madinah bukanlah negara Islam, karena didalamnya juga terdapat umat Yahudi, Negeri Madinah adalah peradaban Islam, sehingga tujuan kita adalah menjadikan Islam sebagai dinul hadharah (agama peradaban).
Mari kita mulai dari diri sendiri, keluarga kita, dan masyarakat kita untuk belajar akhlak, sehingga kepribadian kita menjadi akhlakul quran, walaupun kita bukanlah makhluk yang suci dari dosa, kesalahan, dan kemaksiatan. Tapi usaha itu akan dinilai oleh Allah SWT
Oleh: Ust Ahmad Tsaaqib,M.Ag (Ketua Majelis Tarjih Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bajar)